Presiden Taiwan Serukan Perlawanan

(*/I-3)
24/8/2018 03:30
 Presiden Taiwan Serukan Perlawanan
(SAM YEH / AFP)

PRESIDEN Taiwan Tsai Ing-wen bersumpah tidak akan tunduk terhadap serangan dan intimidasi yang dilakukan Tiongkok.

Hal itu disampaikan Tsai, ke­marin, saat memperingati serangan Tiongkok ke pulau kecil Kinmen yang dikenal se­bagai peristiwa 823 Bombardment. Saat itu, Tiongkok menyerang Taiwan dengan dalih bahwa Taiwan merupakan bagian dari wilayah ‘Negeri Tirai Bambu’ itu .

Tiongkok bertekad untuk merebut kembali dan menya­tukan Taiwan ke wilayah mere­ka. Untuk mencapai tujuan itu, Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok pada 1958 menembakkan 470 ribu peluru meriam ke Kinmen dan pulau-pulau di sekitarnya.

Serangan sporadis yang berlangsung selama 44 hari itu menyebabkan 618 orang tewas. Di sisi lain, Taiwan mengklaim bahwa Kinmen merupakan  ba­gian dari negara itu. Pulau kecil tersebut terletak di se­lat Taiwan, tetapi hanya ber­jarak sekitar dua mil dari daratan Tiongkok.

‘Kami mengingat peristiwa 823 Bombardment yang terjadi 60 tahun lalu. Semangat dan kekompakan masyarakat Taiwan tidak akan terlupakan,’ tulis Tsai di halaman Facebook-nya.

Dia melanjutkan, ketika war­ga Taiwan menghadapi pe­­nindasan, mereka tidak akan lupa bahwa betapa kuatnya ne­gara itu ketika bersatu. Namun, lanjut Tsai, masyarakat Taiwan sangat menyukai ke­damaian.

Seperti diketahui, ketegangan antara Taiwan dan Tiongkok kian memburuk di bawah pimpinan Tsai. Hal itu terjadi karena dia menolak seruan Tiongkok yang menyatakan bahwa Taiwan ialah bagian dari One China.

Tiongkok kemudian meres­pons dengan meningkatkan kekuatan militer dan mendekati sekutu-sekutu Taiwan. Seperti yang terjadi pada El Salvador, setelah didekati Tiongkok, sekutu Taiwan itu akhirnya mengalihkan ikatan dari Taipei kepada Beijing.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Taiwan Yen De-fa se­cara tegas meminta agar prajurit-prajurit Taiwan membuat persiapan tempur guna menghadapi militer Tiongkok.

Saat berpidato di peringatan 823 Bombardment yang digelar di bungker bekas pusat pelatihan di Kinmen, Yen meminta agar tentara Taiwan selalu bersiaga.

Dalam upacara tersebut, ratusan tentara dan veteran  ber­kumpul di Permakaman Kinmen tempat para korban tewas saat peristiwa pengebom­an 1958.

Salah seorang veteran, Lai Jenhsien, 83, mengisahkan in­siden penyerangan tersebut, “Ketika serangan itu digencarkan, kami sempat bercanda bahwa itu hanya sebuah pe­tasan. Namun, apa yang terjadi? Mereka menghujani kami dengan artileri,” kata Lai yang bertugas sebagai mekanik di batalion tempur di Kinmen.

Kepada AFP dia mengungkapkan harapan agar peristiwa itu tidak terulang kembali di Kinmen. “Kedamaian tidak ternilai harganya.”  

Menurutnya, peperangan itu sangat kejam. Karena itu, Lai berharap agar pemerintah mencoba hal-hal terbaik untuk memperbaiki nasib warga mereka. (*/I-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya