Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Taiwan Tsai Ing-wen bersumpah tidak akan tunduk terhadap serangan dan intimidasi yang dilakukan Tiongkok.
Hal itu disampaikan Tsai, kemarin, saat memperingati serangan Tiongkok ke pulau kecil Kinmen yang dikenal sebagai peristiwa 823 Bombardment. Saat itu, Tiongkok menyerang Taiwan dengan dalih bahwa Taiwan merupakan bagian dari wilayah ‘Negeri Tirai Bambu’ itu .
Tiongkok bertekad untuk merebut kembali dan menyatukan Taiwan ke wilayah mereka. Untuk mencapai tujuan itu, Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok pada 1958 menembakkan 470 ribu peluru meriam ke Kinmen dan pulau-pulau di sekitarnya.
Serangan sporadis yang berlangsung selama 44 hari itu menyebabkan 618 orang tewas. Di sisi lain, Taiwan mengklaim bahwa Kinmen merupakan bagian dari negara itu. Pulau kecil tersebut terletak di selat Taiwan, tetapi hanya berjarak sekitar dua mil dari daratan Tiongkok.
‘Kami mengingat peristiwa 823 Bombardment yang terjadi 60 tahun lalu. Semangat dan kekompakan masyarakat Taiwan tidak akan terlupakan,’ tulis Tsai di halaman Facebook-nya.
Dia melanjutkan, ketika warga Taiwan menghadapi penindasan, mereka tidak akan lupa bahwa betapa kuatnya negara itu ketika bersatu. Namun, lanjut Tsai, masyarakat Taiwan sangat menyukai kedamaian.
Seperti diketahui, ketegangan antara Taiwan dan Tiongkok kian memburuk di bawah pimpinan Tsai. Hal itu terjadi karena dia menolak seruan Tiongkok yang menyatakan bahwa Taiwan ialah bagian dari One China.
Tiongkok kemudian merespons dengan meningkatkan kekuatan militer dan mendekati sekutu-sekutu Taiwan. Seperti yang terjadi pada El Salvador, setelah didekati Tiongkok, sekutu Taiwan itu akhirnya mengalihkan ikatan dari Taipei kepada Beijing.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Taiwan Yen De-fa secara tegas meminta agar prajurit-prajurit Taiwan membuat persiapan tempur guna menghadapi militer Tiongkok.
Saat berpidato di peringatan 823 Bombardment yang digelar di bungker bekas pusat pelatihan di Kinmen, Yen meminta agar tentara Taiwan selalu bersiaga.
Dalam upacara tersebut, ratusan tentara dan veteran berkumpul di Permakaman Kinmen tempat para korban tewas saat peristiwa pengeboman 1958.
Salah seorang veteran, Lai Jenhsien, 83, mengisahkan insiden penyerangan tersebut, “Ketika serangan itu digencarkan, kami sempat bercanda bahwa itu hanya sebuah petasan. Namun, apa yang terjadi? Mereka menghujani kami dengan artileri,” kata Lai yang bertugas sebagai mekanik di batalion tempur di Kinmen.
Kepada AFP dia mengungkapkan harapan agar peristiwa itu tidak terulang kembali di Kinmen. “Kedamaian tidak ternilai harganya.”
Menurutnya, peperangan itu sangat kejam. Karena itu, Lai berharap agar pemerintah mencoba hal-hal terbaik untuk memperbaiki nasib warga mereka. (*/I-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved