Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGUNGSI Rohingya di perbatasan Bangladesh-Myanmar dihantui rasa takut. mereka khawatir dengan maraknya kasus pembunuhan misterius yang terjadi di kamp-kamp pengungsian.
Petugas kepolisan yang jumlahnya tidak lebih dari 1.000 personel, kewalahan untuk melindungi hampir 1 juta pengungsi yang dirundung trauma. Serangkaian kasus pembunuhan yang terjadi belakangan ini kemudian mendorong otoritas setempat untuk menggandakan kekuatan pengamanan.
Seperti diketahui, tiga pemimpin yang dihormati para pengungsi Rohingnya telah menjadi korban dari sederetan kasus pembunuhan. Pihak kepolisian menduga aksi keji tersebut dilatarbelakangi perebutan kekuasaan antara kalangan pengungsi Rohingya dan pengungsi lainnya di wilayah kumuh sekitar Cox's Bazar.
Salah satu korban, yakni Arifullah, ditemukan tewas di tepi jalan dengan 25 luka tusukan pada Juni lalu. Selang beberapa hari kemudian, dua pengungsi di Cox's Bazar diketahui menjadi korban pembunuh bertopeng. Kepolisian di Distrik Cox's Bazar kini tengah menyelidiki 21 kasus pembunuhan pengungsi yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Banyak pengungsi di Kutupalong, sebuah kamp pengungsi terbesar di dunia, memandang aksi kekerasan yang tidak terkendali menjadikan kalangan pengungsi Rohingya di bawah belas kasihan para penjahat.
"Begitu beberapa anggota geng masuk ke kamp, kami memanggil polisi. Namun, petugas kepolisian datang setelah para penjahat hilang," ucap Runa Akter, yang belum lama kehilangan ayah dan pamannya. Dengan suara bergetar, kepada AFP dia mengungkapkan ketakutannya akan ancaman penculikan dan pembunuhan. Remaja itu mengaku tidak ingin kehilangan anggota keluarga lainnya.
Kini, terdapat lebih dari 700 ribu warga Rohingya di Rakhine yang mengungsi ke perbatasan Bangladesh sejak mencuatnya kekerasan oleh tentara Myanmar.
Diintai
Sementara itu, berdasarkan pengamatan polisi, sejumlah penjahat sudah lama mengintai kamp pengungsian Rohingnya. Pengungsi yang terlibat dalam jaringan narkoba dan perdagangan manusia di Bangladesh, bahkan tega menjual remaja perempuan Rohingnya demi mempertebal pundi-pundi mereka.
Anehnya salah satu penyelidik, SM Atiq Ullah, mengatakan belum ada tersangka yang terindentifikasi sejauh ini. Dalam kunjungannya baru-baru ini, wartawan AFP sempat melihat satu unit polisi bersenjata di sebuah kamp tempat dua pengungsi ditemukan tewas.
Seorang pemimpin komunitas yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan tidak ada satu pun petugas kepolisian yang berjaga pada tengah malam.
Demikian pula pada siang hari, mereka lebih memilih memantau dari pos jaga. Selain itu, minimnya petugas kepolisian yang mampu berbahasa Rohingya turut menghambat penyelidikan. (AFP/I-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved