Myanmar Siap Bekerja Sama Tangani Krisis Imigran

Andhika prasetyo
21/5/2015 00:00
Myanmar Siap Bekerja Sama Tangani Krisis Imigran
(AP)
PEMERINTAH Myanmar, Kamis (21/5), menyatakan siap untuk berkontribusi dalam upaya mengatasi merebaknya isu irregular movement yang terjadi di wilayah Asia Tenggara saat ini.

Pernyataan tersebut diungkapkan saat Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi melakukan kunjungan bilateral ke Myanmar pada 20 dan 21 Mei 2015.

Sebelumnya, Menteri Retno Marsudi, Menlu Malaysia Datuk Seri Anifah Aman, dan Menlu Thailand Tanasak Patimapragorn, dalam pertemuan di Putrajaya, Rabu (20/5), menekankan bahwa masalah irregular movement yang terjadi saat ini bukan merupakan isu negara individu, namun merupakan isu internasional yang harus diselesaikan secara bersama.

“Ini adalah krisis kemanusiaan internasional, yang bukan tanggung jawab masing-masing negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Harus ada kerja sama dari seluruh negara di kawasan dan juga bantuan internasionaluntuk membantu menyelesaikan masalah ini,” ujar juru bicara kementerian luar negeri Indonesia, Armanatha Nasir saat mengadakan press briefing di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (21/5).

Dari hasil pertemuan, ketiga negara tersbut sepakat untuk terus memberikan bantuan kemanusiaan kepada para imigran. Indonesia dan Malaysia juga menyatakan siap untuk menampung para imigran tersebut dengan syarat bahwa proses resettlement dan repatriasi akan diselesaikan oleh komunitas internasional dalam kurun waktu satu tahun.

“The United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) dan Internatioal Organization for Migration (IOM) sudah berkomitmen untuk memberikan bantuan. Namun, mereka juga membutuhkan dukungan dari komunitas internasional lainnya. Berapa jumlah bantuannya belum dijabarkan,” imbuh Armanatha.

Ketiga negara juga menyerukan pentingnya upaya untuk mengatasi akar permasalahan dan meningkatkan kerjasama dalam konteks menghadapi kasus penyelundupan dan perdagangan manusia.

“Mengingat kompleksitas permasalahan yang dihadapi saat ini, kita tidak bisa melihat hanya dari segi migrasinya saja, tapi juga masalah trafficking yang ada di belakangnya,” lanjut Armanatha.

Pria yang akrab disapa Tata itu juga mengatakan akan ada emergency meeting yang akan dilakukan oleh para menteri luar negeri ASEAN untuk membahas kelanjutan permasalahan ini.

“Jadwalnya belum ada, tapi akan diatur segera.”

Saat ini, diperkirakan masih terdapat 7 ribu warga Bangladesh dan Rohingya yang masih berada di laut.

Selain membahas masalah imigran, Menteri Luar Negeri Indonesia, dalam pertemuan bilateral di Myanmar, juga membicarakan kerjasama antara kedua Negara tersebut..

Armanatha mengatakan Indonesia siap mendukung proses reformasi dan demokratisasi yang sedang berlangsung di Myanmar.

“Kedua Negara juga sepakat untuk bekerja lebih keras lagi untuk mencapai target perdagangan US$1 miliar pada 2016 nanti. Selain itu, Indonesia juga menawarkan berbagai bantuan di bidang pendidikan, infrastruktur dan komunikasi,” tuturnya. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya