Kemarau,Pertanian Lumpuh

(AFP/Yan/I-1)
09/8/2018 06:30
Kemarau,Pertanian Lumpuh
(AFP/GLENN NICHOLLS)

KEKERINGAN telah melumpuhkan lahan-lahan luas di pedalaman Australia dan mengakibatkan para petani 'Negeri Kanguru' itu putus asa. Apalagi, kekeringan ini terjadi di saat mereka menghadapi tekanan finansial dan emosional.

Meskipun negara itu tidak asing dengan kekeringan besar dan warga mereka sejak lama telah memiliki reputasi sebagai orang-orang tangguh, kondisi ekstrem di seluruh bagian timur Australia saat ini ialah yang terburuk dalam lebih dari 50 tahun terakhir.

Sedikit hujan awal pekan ini tidak banyak membantu awal musim terkering tahun ini. Kekeringan itu telah mengubah padang rumput menjadi debu dan menghancurkan area pertanian yang sangat luas.

Tanpa pakan, para petani Australia dipaksa untuk mencari gandum atau jerami dari bagian lain negara itu supaya domba dan ternak mereka tetap hidup. Itu menghabiskan ribuan dolar ekstra setiap minggu hanya untuk tetap bertahan.

Beberapa peternak yang kelelahan menghabiskan berjam-jam setiap hari untuk memberi makan ternak mereka karena tanah terlalu kering untuk ditumbuhi rumput. Yang lainnya dipaksa untuk menembak ternak yang kelaparan.

"Mereka menembaki stok mereka karena mereka tidak ingin (ternak) mereka menderita. Mereka menembak (ternak) mereka karena tidak mampu memberi makan lagi," kata Tash Johnston, salah satu pendiri badan amal Drought Angels.

Petani juga harus menjatah air untuk keluarga dan ternak mereka karena bendungan di properti mereka telah kering atau nyaris kosong.

Banyak petani berpikir untuk meninggalkan rumah. Padahal, mereka sudah menempati lahan itu selama beberapa generasi.

Salah satu kawasan Australia yang mengalami kekeringan parah itu ialah Negara Bagian New South Wales. Di sana pertanian menyumbang lebih dari US$11 miliar ke ekonomi negara itu setiap tahun dan mempekerjakan lebih dari 77 ribu orang.

Pihak berwenang kemarin secara resmi menyatakan seluruh negara bagian itu mengalami musim kemarau.

Kondisi serupa juga mengerikan di Queensland utara. Pemerintah negara bagian itu mengatakan hampir 60% lahan mengalami kondisi kekeringan.

"Ini akan menjadi pertama kalinya dalam dua generasi, kembali ke 1930-an, bahwa warga tidak dapat panen di musim gugur atau musim dingin," kata Greg Stones, pengelola peternakan domba, petani gandum dan tanaman dekat Gunnedah, sekitar 5 jam perjalanan ke utara Sydney, yang dilanda kekeringan.

Di saat para petani menghadapi kehancuran, pemerintah Australia akhir pekan lalu menjanjikan paket bantuan darurat langsung senilai A$190 juta.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya