Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan negara-negara lain untuk tidak berbisnis dengan Iran seiring mulai berlakunya sanksi Washington terhadap Teheran, Selasa (7/8)
“Sanksi terhadap Iran secara resmi telah berlaku. Ini merupakan sanksi paling keras yang pernah dijatuhkan, dan November nanti sanksi itu akan ditingkatkan,” kata Trump dalam kicauannya, kemarin pagi.
“Siapa pun yang berbisnis dengan Iran tidak akan berbisnis dengan Amerika Serikat. Saya meminta perdamaian dunia, tidak lebih dari itu,” tegasnya.
Dalam hitungan jam setelah sanksi terhadap Iran diberlakukan, produsen mobil Jerman, Daimler, mengatakan menghentikan kegiatan bisnis mereka di Iran.
Seperti diketahui, Gedung Putih memberlakukan sanksi fase pertama melalui pembatasan akses Iran terhadap suplai dolar AS serta industri manufaktur utama di Iran seperti mobil dan karpet.
Sanksi itu dijatuhkan menyusul keputusan AS yang menarik diri dari traktat perjanjian nuklir yang mencabut sanksi terhadap Iran, Mei lalu. Sikap AS sendiri telah memicu kegeraman negara-negara yang terlibat dalam perjanjian tersebut.
Uni Eropa padas khususnya berkomitmen mempertahankan kesepakatan nuklir 2015 dengan substansi pencabutan sanksi ekonomi sepanjang Iran membatasi program nuklirnya.
Investor asal Uni Eropa pun mulai ketar-ketir. Pasalnya, sanksi yang dijatuhkan AS mengancam keberlangsungan investasi mereka di Iran.
Pemerintah Iran bergeming untuk bernegosiasi dengan AS. Menjelang berlakunya sanksi itu, Presiden Hassan Rouhani menepis tawaran membuat kesepakatan ulang apabila sanksi tetap berlaku.
Menurutnya, tawaran negosiasi dengan menjatuhkan sanksi sungguh tak masuk akal. “Apabila Anda menikam seseorang dengan pisau kemudian ingin berbicara, hal yang harus dilakukan pertama kali ialah mencabut pisau tersebut. Negosiasi dengan sanksi tidak masuk akal,” tegas Rouhani dalam pidato kemarin pagi.
Retorika Trump yang agresif kemudian berdampak pada pelemahan nilai tukar mata uang Iran dalam beberapa bulan terakhir. Rial Iran mengalami depresiasi cukup dalam seusai Trump mengumumkan AS menarik diri dari pakta nuklir.
Protes publik terhadap pemerintah pun terus bermunculan seiring memburuknya perekonomian domestik yang ditandai lonjakan inflasi.
Sebagian besar masyarakat Iran memandang ketegangan dengan AS merupakan bagian dinamika global. Frustrasi masyarakat cenderung mengarah pada pemimpin mereka yang dinilai tidak becus menangani situasi krisis.
“Harga bahan pokok naik tajam selama tiga atau empat bulan terakhir. Semua yang kami butuhkan menjadi sangat mahal, bahkan sebelum AS menjatuhkan sanksi,” cetus seorang fotografer lokal, Yasaman, di Teheran, kemarin. (AFP/Tes/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved