Trump Larang Bisnis dengan Iran

(AFP/Tes/I-1)
08/8/2018 04:30
Trump Larang  Bisnis dengan Iran
(AFP/ANTHONY WALLACE)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan nega­ra-negara lain untuk tidak berbisnis dengan Iran ­seiring mulai berlakunya sanksi Wa­shington terhadap Teheran, Selasa (7/8)

“Sanksi terhadap Iran seca­ra resmi telah berlaku. Ini me­rupakan sanksi paling ke­ras yang pernah dijatuhkan, dan November nanti sanksi itu akan ditingkatkan,” kata Trump dalam kicauannya, ke­marin pagi.

“Siapa pun yang berbisnis dengan Iran tidak akan ber­bisnis dengan Amerika Serikat. Saya meminta perdamaian dunia, tidak lebih dari itu,” tegasnya.

Dalam hitungan jam setelah sanksi terhadap Iran diberla­kukan, produsen mobil Jer­man, Daimler, mengatakan menghentikan kegiatan bisnis mereka di Iran.

Seperti diketahui, Gedung Putih memberlakukan sanksi fase pertama melalui pemba­tasan akses Iran terhadap sup­lai dolar AS serta industri manufaktur utama di Iran seperti mobil dan karpet.

Sanksi itu dijatuhkan menyusul keputusan AS yang me­narik diri dari traktat perjanjian nuklir yang mencabut sanksi terhadap Iran, Mei lalu. Sikap AS sendiri telah memicu kegeraman negara-negara yang terlibat dalam perjanjian tersebut.

Uni Eropa padas khususnya berkomitmen mempertahankan kesepakatan nuklir 2015 dengan substansi pencabutan sanksi ekonomi sepanjang Iran membatasi program nuklirnya.

Investor asal Uni Eropa pun mulai ketar-ketir. Pasalnya, sanksi yang dijatuhkan AS mengancam keberlangsungan investasi mereka di Iran.

Pemerintah Iran bergeming untuk bernegosiasi dengan AS. Menjelang berlakunya sanksi itu, Presiden Hassan Rouhani menepis tawaran membuat ke­sepakatan ulang apabila sanksi tetap berlaku.

Menu­rut­nya, tawaran ­negosiasi dengan menjatuhkan sanksi sungguh tak masuk akal. “Apabila Anda menikam se­seorang dengan pisau kemudian ingin berbicara,  hal yang harus dilakukan pertama ka­li ialah mencabut pisau ter­­­sebut. Negosiasi dengan sanksi tidak masuk akal,” te­­gas Rouhani dalam pidato kemarin pagi.

Retorika Trump yang agre­sif kemudian berdampak pada pelemahan nilai tukar ma­­ta uang Iran dalam beberapa bulan terakhir. Rial Iran mengalami depresiasi cukup dalam seusai Trump mengumumkan AS menarik diri dari pakta nuklir.
Protes publik terhadap pemerintah pun terus bermunculan sei­ring memburuknya perekonomian domestik yang ditandai lon­jak­an inflasi.

Sebagian besar masyarakat Iran memandang ketegangan dengan AS merupakan bagian dinamika global. Frustrasi masyarakat cenderung mengarah pada pemimpin mereka yang dinilai tidak becus menangani situasi krisis.

“Harga bahan pokok naik tajam selama tiga atau empat bulan terakhir. Semua yang kami butuhkan menjadi sangat mahal, bahkan sebelum AS menjatuhkan sanksi,” cetus seorang fotografer lokal, Yasaman, di Teheran, kemarin. (AFP/Tes/I-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya