Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DI sebuah aula besar di Kota Laut Merah Jeddah, ribuan profesional peranti lunak dan siswa berkompetisi dalam hackathon pertama Kerajaan Arab Saudi selama tiga hari yang berakhir Jumat (3/8).
Selama 36 jam mengembangkan perangkat lunak, para peserta dari seluruh dunia berjuang dengan mengorbankan waktu tidur untuk mencari kunci pertanyaan yang telah lama mengusik penyelenggara haji, yakni bagaimana mencegah bencana mematikan di masa depan?
Sebuah kelompok yang terdiri dari lima perempuan Saudi, Yaman, dan Eritrea, semuanya berusia 20-an dan tertutup dari kepala hingga kaki dengan niqab, membungkuk di atas laptop mereka. Bersama-sama mereka merancang sebuah aplikasi bagi paramedis agar dapat segera menjangkau orang-orang yang membutuhkan perawatan medis dengan menggunakan pelacak teknologi.
Jika beberapa keadaan darurat muncul sekaligus, para wanita ini berharap aplikasi mereka dapat membantu memprioritaskan kasus yang paling mendesak.
Dua profesional Pakistan berpasangan dengan dua mahasiswa Asia Timur juga mengembangkan aplikasi tali virtual. Aplikasi ini berfungsi untuk menemukan kerabat yang hilang di lautan manusia dengan menggunakan gelang bluetooth.
Empat pria Saudi berusaha mendesain sensor untuk tempat sampah yang akan mengingatkan para petugas kebersihan untuk menghindari semua masalah kebersihan.
Dan kelompok perempuan Saudi lainnya menuliskan algoritme dan kode pemrograman di papan tulis untuk merancang aplikasi untuk membantu penutur nonbahasa Arab menerjemahkan instruksi ke dalam berbagai bahasa tanpa koneksi internet.
Dengan hampir 3.000 programmer--yang makan dan tidur di tempat tersebut-- penyelenggara mengatakan Arab Saudi telah memecahkan Rekor Dunia Guinness untuk jumlah peserta terbesar hackathon.
Sementara itu, solusi mereka masih belum teruji, acara yang berakhir pada Jumat (3/8) ini menawarkan hadiah uang tunai sekitar 2 juta riyal ($533.000).
"Kami bertujuan meningkatkan pengalaman haji bagi semua peziarah dari seluruh dunia," kata Nouf al-Rakan, Kepala Eksekutif Federasi Saudi untuk Keamanan dan Pemrograman Cyber, yang menyelenggarakan acara tersebut.
Serangkaian bencana mematikan terjadi selama musim haji nyaris setiap tahun. Pada September 2015, sebuah kepanikan menewaskan hingga 2.300 jemaah--termasuk ratusan orang Iran. Itu merupakan bencana terburuk selama musim haji. .
Sebelumnya, pada awal bulan itu, 100 orang tewas ketika derek konstruksi jatuh di halaman Masjidil Haram, Mekah. Korban banyak berasal dari Indonesia.
Tragedi itu memicu kecaman pedas dari pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang mengatakan keluarga penguasa Saudi tidak pantas untuk mengelola tempat-tempat suci umat Islam.
"Saya membayangkan penguasa Saudi sangat ingin menghindari terulangnya kekeliruan di masa lalu karena bisa berakibat buruk pada narasi modernisasi oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman," kata Kristian Ulrichsen, seorang peneliti di Institut Baker Universitas Rice di AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved