Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Venezuela Nicolas Maduro mengatakan dia lebih tegar dari sebelumnya setelah selamat dari upaya pembunuhan dengan menggunakan drone berisi bahan peledak. Kejadian itu berlangsung saat dirinya sedang berpidato selama parade militer di Caracas pada Sabtu (4/8).
Pemerintah mengatakan tujuh tentara terluka dalam serangan tersebut. Maduro menyalahkan Kolombia, tetapi kemudian sebuah kelompok pemberontak misterius mengklaim serangan itu.
"Saya baik-baik saja. Saya hidup, dan setelah serangan ini saya lebih bertekad untuk melanjutkan revolusi," tegas Maduro.
"Keadilan! Hukuman yang maksimal! Dan tidak akan ada pengampunan," dia memperingatkan dalam sebuah pidato.
Pidatonya ini menyulut kekhawatiran akan adanya serangan antioposisi. Sejauh ini pemerintahan Maduro dilaporkan telah menahan sekitar 248 tahanan politik.
Sementara itu, Jaksa Agung Tarek William Saab yang juga hadir dalam pawai itu mengatakan mereka yang ditangkap sehubungan dengan insiden itu akan diidentifikasi pada hari ini. "Akan ada hukuman yang berat," katanya.
Tayangan televisi pemerintah Venezuela menunjukkan Maduro tampak kebingungan saat pidato setelah terdengar suara ledakan. Di lain pihak, para anggota Garda Nasional negara itu yang sedang berbaris di pawai tiba-tiba bubar menyebar.
"Itu ialah serangan untuk membunuh saya. Mereka mencoba membunuh saya hari ini," katanya dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah.
Menteri Komunikasi Jorge Rodriguez mengatakan ada ledakan di dekat podium presiden dan di beberapa tempat lain di sepanjang pawai yang diadakan di Caracas.
Kepada CNN, Rodriguez mengatakan bahwa dia melihat sebuah drone memfilmkan peristiwa itu meledak.
Tidak ada drone yang bisa dilihat dalam siaran televisi, yang menunjukkan pengawal melompat di depan Maduro untuk melindunginya dengan perisai balistik fleksibel. Siaran dengan segera terputus.
Seorang polisi yang meminta namanya dirahasiakan mengatakan bahwa pesawat tak berawak itu mungkin dilepaskan dari sebuah apartemen di dekatnya dan terbakar setelah ledakan. Namun, versi lain menyebutkan bahwa ledakan berasal dari silinder gas yang tidak disengaja.
Klaim pemberontak
Pemerintah menuding kelompok sayap ultrakanan (istilah mereka untuk oposisi) atas kejadian ini.
Namun, Maduro tidak ragu menuding Presiden Kolombia Juan Manuel Santos berada di balik serangan ini.
Dia menambahkan, penyelidikan mengarah pada para pendukung keuangan yang tinggal di Florida, Amerika Serikat. "Saya berharap Presiden Donald Trump siap untuk memerangi kelompok-kelompok teroris ini," tambahnya.
Kementerian Luar Negeri Kolombia membantah terlibat dalam serangan itu. Dia mengatakan tuduhan itu tidak masuk akal dan tidak berdasar.
Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS mengatakan Gedung Putih memantau situasi dengan saksama tanpa berkomentar lebih lanjut.
Di tempat lain, sekutu Maduro, yaitu Kuba dan Bolivia, mengutuk insiden tersebut.
Sementara itu, pada Sabtu malam, sebuah kelompok pemberontak sipil dan militer yang menamakan dirinya 'Gerakan Tentara Nasional di T-shirt' mengklaim bertanggung jawab atas ledakan itu.
"Ini bertentangan dengan kehormatan militer untuk menjaga pemerintah mereka yang tidak hanya melupakan Konstitusi, tetapi juga telah menempati kantor publik untuk menjadi kaya," kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan kepada wartawan oposisi yang berbasis di AS, Patricia Poleo. (AFP/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved