Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
JEJARING sosial terbesar di dunia, Facebook, mengungkapkan telah membongkar sebuah upaya politik terkoordinasi untuk memengaruhi pemilihan parlemen Amerika Serikat (AS) yang akan digelar pada November 2018 mendatang.
Untuk membendung upaya itu, Facebook kemudian menghapus puluhan akun palsu yang beroperasi di media sosial tersebut. Sebelumnya, Facebook dan sejumlah badan intelijen AS menuding Rusia menjalankan propaganda serupa saat pemilihan umum (pemilu) Presiden AS pada 2016 lalu. Seperti diketahui, dalam pemilu itu, Donald Trump keluar sebagai pemenang dan terpilih menjadi presiden ke-45 AS.
Belajar dari pengalaman itu, Selasa (31/7), Facebook menyatakan telah menghapus 32 halaman dan akun dari jejaring sosial itu dan media sosial Instagram sebagai bagian dari upaya untuk menghalau campur tangan asing dalam pemilu di AS.
"Perilaku seperti ini tidak akan kami biarkan karena kami tidak ingin ada akun-akun yang dipakai untuk maksud-maksud menyesatkan publik," urai Facebook dalam pernyataan tertulis mereka.
Manajemen Facebook melanjutkan, upaya membongkar penyalahgunaan akun-akun tersebut masih berada dalam tahap awal penyelidikan.
"Kami belum mengumpulkan semua fakta yang ada, termasuk siapa dalang yang memanfaatkan jaringan dan akun-akun itu." kata manajemen Facebook. Salah satu halaman yang dihapus telah memiliki pengikut sebanyak 290 ribu orang.
Manajemen jejaring sosial itu membeberkan, sejauh ini para pelaku telah menghabiskan dana sekitar US$11 ribu atau sekitar Rp150 juta untuk menyebar iklan propaganda mereka di media sosial yang sama. Demikian pula halaman-halaman yang digunakan para pelaku telah aktif mempromosikan propaganda mereka lewat publikasi sekitar 30 acara sejak Mei 2017.
Aktor asing
The New York Times pada pekan ini memuat artikel tentang upaya Facebook melacak jaringan akun-akun tersebut. Surat kabar itu merupakan media yang pertama kali memublikasikan temuan Facebook tersebut.
Menurut the New York Times, Facebook melakukan upaya pengungkapan penyalahgunaan akun-akun itu sebagai bagian dari penyelidikan terhadap intervensi pihak-pihak tertentu dalam pemilu parlemen AS. Facebook sebelumnya telah merilis respons yang diberikan pengguna media sosial di AS atas pesan politik dari Rusia sepanjang dua tahun terakhir.
Dari kalkulasi yang dilakukan, sebanyak 126 juta pengguna Facebook di AS telah melihat pesan-pesan politik tersebut. Selain pengguna Facebook, pesan-pesan yang dikirimkan pihak Rusia itu juga dilihat 16 juta pengguna Instagram.
Dalam menanggapi temuan Facebook tersebut, anggota terkemuka Partai Demokrat pada Komite Intelijen DPR AS, Adam Schiff, mendesak Facebook untuk segera bertindak menanggapi kelompok-kelompok asing yang berusaha memengaruhi para pemilih di AS. Sebagai informasi, pemilu parlemen AS pada November mendatang akan menentukan apakah Partai Republik berhasil mempertahankan kursi mayoritas mereka, baik di Dewan Perwakilan maupun Senat, atau sebaliknya.
"Pernyataan Facebook pada hari ini telah membuktikan apa yang telah kita khawatirkan sejak lama, yaitu adanya aktor-aktor asing yang terus menyalahgunakan media sosial untuk memengaruhi pemilihan umum di Amerika Serikat," kata Schiff.
Pada September tahun lalu, Facebook mengungkapkan upaya sejumlah warga Rusia dengan menggunakan nama-nama palsu, memakai media sosial untuk menjaring suara pemilih selama beberapa bulan menjelang pemungutan suara di 2016. Modus operandi yang dipakai akun-akun palsu itu ialah banyak menulis tentang topik-topik kontroversial, menggelar sejumlah acara, dan membeli iklan.
(Ant/I-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved