Seorang polisi berpakaian preman megarahakan senjata ke arah pengendara dalam sebuah mobil saat upaya pengamanan setelah terjadi penyerangan ke Museum Nasional Bardo, pekan lalu.(AFP/FETHI BELAID)
SEJAK rezim diktator Presiden Zine el-Abidine Ben Ali tumbang pada 2011, Tunisia, sebuah negara di kawasan Afrika Utara, menghadapi peningkatan ancaman serangan dari kelompok ekstremis, termasuk yang diotaki kelompok garis keras Islamic State (IS).
Puluhan polisi dan personel militer telah tewas atau terluka dalam sejumlah serangan mematikan yang dilakukan kelompok bersenjata.
Penyerangan berdarah di Museum Nasional Bardo di Ibu Kota Tunis, Rabu (18/3), merupakan yang paling mematikan sejak Ben Ali dilengserkan gerakan rakyat yang dikenal sebagai Arab Spring.
Setidaknya 23 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka dalam serangan tersebut. Sebagian besar korban ialah warga Eropa, di samping beberapa dari Australia, Jepang, dan Kolombia.
Tak lama setelah serangan itu, kelompok IS, yang bersalin nama dari Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), mengklaim sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Pengakuan itu mempertegas serangan di Museum Nasional Bardo merupakan aktivitas bersenjata pertama yang dioperasikan IS di Tunisia sejak kelompok garis keras itu menguasai sebagian besar wilayah utara Irak dan Suriah.
Serangan mematikan di Tunisia itu juga menunjukkan aktivitas perluasan strategi dan kontrol IS di kawasan Afrika Utara, menyusul serangkaian aksi penyerangan tingkat tinggi di Libia. Gerakan bersenjata IS di luar Suriah dan Irak termasuk eksekusi penganut Kristen Koptik asal Mesir di Libia beberapa waktu lalu.
Pemerintah Tunisia memprediksi ada lebih dari 3.000 warga negara itu yang berangkat berjihad ke medan tempur di Suriah dan Irak, tempat lahirnya IS. Beberapa dari mereka telah kembali ke Tunisia, membawa ancaman serius terhadap keamanan dalam negeri.
Terkait dengan aksi serangan di Museum Nasional Bardo, otoritas keamanan Tunisia telah menangkap sembilan orang yang diduga terlibat dalam penyerangan. "Pasukan keamanan menangkap empat orang yang terkait langsung dengan operasi teroris (IS) dan lima tersangka lainnya memiliki jalinan dengan sel kelompok teroris," ungkap pernyataan yang dikeluarkan kantor kepresidenan.
Kelompok ekstremis yang dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi merilis video berisi pengakuan terhadap serangan di museum itu. Pada Kamis (19/3) pagi, otoritas keamanan mengidentifikasi dua pria bersenjata sebagai Yassine Laabidi dan Hatem Khachnaoui. Salah satu dari mereka sudah masuk radar badan intelijen meskipun tidak disebutkan dengan jelas siapa orang yang dimaksud.
Kemarin, aparat keamanan Tunisia mulai memburu pelaku penyerangan ketiga di Museum Nasional Bardo. Kementerian dalam negeri setempat mengatakan tengah mencari persembunyian Maher bin Al-Moulidi Al-Qaidi yang melarikan diri setelah penyerbuan ke museum.
Kepada stasiun televisi Prancis, Itele, Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi sebelumnya mengatakan penyerangan melibatkan 'tiga agresor'. Pelaku ketiga melarikan diri. "Dua orang tewas, tetapi sekarang seorang pelaku melarikan diri. Dia mungkin belum jauh." (BBC/Al Jazeera/Hym/I-3)