Polisi Tahan Guru atas Permintaan Turki

(Turkeypurge.com/Stockholmcf.org/Ire/I-2)
30/7/2018 00:00
Polisi Tahan Guru atas Permintaan Turki
(AFP PHOTO )

KEKERASAN Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di luar Turki terus berlanjut. Sabtu (28/7), penyelidikan terhadap penculikan terhadap salah guru Turki di Afghanistan dilakukan.

Sekelompok besar perwira dari pasukan polisi nasional Afghanistan dilaporkan menunggu di luar sekolah menengah anak laki-laki Afghan-Turk di Shibirghan untuk menahan guru-guru di Turki yang diduga terkait dengan Fethullah Gulen, ulama Turki terduga dalang kudeta percobaan di sana.

Sebuah sumber yang dapat dipercaya mengungkapkan, pengepungan di sekolah menengah atas Afghanistan-Turki di Shibirghan, Afghanistan, Sabtu (28/6) pagi, terjadi setelah Wakil Presiden Pertama Afghanistan Jenderal Abdul Rashid Dostum yang kembali dari Turki ke Afghanistan pekan lalu.

Sumber tersebut mengklaim Erdogan membuat perjanjian rahasia dengan Dostum yang berasal dari Uzbekistan hingga akhirnya pasukan Dostum tidak mengizinkan siapa pun masuk atau meninggalkan sekolah.

Pejabat Turki dan Kedutaan Turki di Kabul terus menargetkan sekolah dan staf selama beberapa tahun terakhir.

Sekolah menengah anak laki-laki Afghanistan-Turki dan sekolah tinggi gadis Afghanistan di Kota Shibirghan telah dioperasikan pengusaha Turki dan lokal yang berafiliasi dengan gerakan Gulen.

Pada April 2018, Kedutaan Turki juga terlibat dalam serangan provokatif lain di sekolah yang berafiliasi dengan gerakan Gulen di Mazar-e Sharif, kota di utara Afghanistan. Namun, itu gagal ketika penduduk setempat dimobilisasi untuk melindungi sekolah dan stafnya.

Menurut laporan terbaru Pusat Kebebasan Stockholm (SCF), pemerintahan Presiden Erdogan telah memenjarakan sekitar 20 ribu instruktur dan secara sewenang-wenang memecat 34.185 guru sekolah umum serta 5.719 akademisi, termasuk profesor dari universitas negeri dalam dua tahun terakhir.

Mereka dicap sebagai teroris dan komplotan kudeta tanpa pemeriksaan administrasi atau peradilan yang efektif.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya