Semula Diduga Suara Kembang Api

MI
24/3/2015 00:00
Semula Diduga Suara Kembang Api
(AFP/FADEL SENNA)
SEJUMLAH wisatawan asing menjadi korban serangan berdarah yang terjadi di Museum Nasional Bardo, Tunis, Tunisia. Beberapa dari mereka yang selamat telah menjadi saksi hidup dari kebengisan yang menewaskan 23 orang termasuk para pelaku tersebut.

Bruna Scherini, warga negara Italia, memberikan kesaksiannya kepada stasiun televisi Italia Sky langsung dari tempat pembaringannya di sebuah rumah sakit.

Saat penembakan terjadi, Scherini mengaku sedang melihat lihat-lihat koleksi benda di museum. Ia berada di salah satu ruangan tua dari bagian gedung tersebut yang memajang mozaik-mozaik.

"Pada saat itu, saya dan anak saya mulai mendengar suara tembakan dan seketika semua orang berteriak dan berlari berhamburan. Ada yang bersembunyi di balik jendela, ada juga yang berlari ke ujung ruangan. Semua orang mencoba menyelamatkan diri dengan cara apa pun yang bisa mereka lakukan," ujar Scherini.

"Saya tidak mengingat berapa lama kejadian tersebut terjadi," jelasnya, "mereka masuk dan menembakkan peluru ke seluruh penjuru museum. Salah satu peluru tersebut mengenai kaki saya."

Josep Lluis Cusido, kepala kepolisian di Catalonia, Spanyol, juga berada di dalam museum ketika penyerangan terjadi. "Kejadian itu terjadi sangat cepat. Mereka tidak berhenti menembak. Saya dengan jelas melihatnya sendiri," kata Cusido.

"Awalnya saya mengira suara itu adalah kembang api. Namun, setelah melihat keluar ternyata ada tiga, bahkan empat orang, membawa senjata. Saya tidak mengingat jelas berapa jumlah mereka. Saya berlari menuju balkon dan bersembunyi bersama turis lainnya," imbuh warga Spanyol tersebut.

Alberto Di Porto, salah satu korban dari Italia yang selamat, juga menceritakan pengalaman mengerikannya kepada surat kabar Corriere della Sera. Ia saat itu berada di Tunisia untuk merayakan ulang tahun istrinya, Anna.

"Ketika mendengar suara tembakan yang diikuti ledakan granat, saya melihat ke bawah tangga dan terdapat orang-orang berseragam polisi sedang menembaki para turis yang baru saja mengunjungi museum bersama saya," ungkap pria 71 tahun tersebut.

Sementara itu, bloger sekaligus aktivis Farouk Ali, yang sedang berada di dekat museum saat penyerangan terjadi, juga memberikan kesaksiannya kepada BBC.

Farouk mengatakan dirinya ingin menemui seorang teman di daerah Bardo. Lalu ia mendengar tembakan dan berlari seperti orang-orang lainnya. "Kejadian tersebut sangat mengejutkan, tetapi kami warga negara Tunisia adalah orang-orang yang kuat dan tidak akan takut terhadap hal-hal yang seperti itu," ujarnya.

Seorang warga 'Negeri Sakura' yang terluka, Noriko Yuki, juga diwawancarai media Jepang. Yuki mengatakan dirinya mendengar suara tembakan, lalu seorang pemandu wisata menyuruhnya untuk berlari meninggalkan museum.

"Saya terjatuh sambil memegangi kepala. Saya tertembak di telinga, leher, dan tangan. Ibu saya tertembak di bagian leher dan tidak dapat bergerak hingga bantuan kepolisian tiba di lokasi kejadian," ujar Yuki. (BBC/Pra/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya