Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERATURAN Perlindungan Data Umum (GDPR) Uni Eropa memiliki dampak nyata pada jumlah pengguna Facebook. Ketika membahas laba kuartal kedua, jaringan sosial itu mengungkapkan bahwa mereka kehilangan sekitar 1 juta pengguna aktif bulanan di Eropa karena penerapan GDPR.
Itu kemungkinan tidak sebanding dengan total 376 juta pengguna di Eropa dan 2,2 miliar total pengguna. Tetapi kemunduran seperti itu sangat jarang terjadi bagi perusahaan yang hampir selalu melihat pertumbuhan.
Yang pasti ini bukan tren dan itu mungkin efek skandal Cambridge Analytica (CA). Facebook bisa gugup tentang ini karena itu menunjukkan orang Eropa jauh lebih sensitif jika tetkait masalah privasi internet.
Efek CA ternyata tidak hanya memberi efeknpada jumlah pengguna. Saham Facebook pun bak tenggelam dalam badai berita buruk.
Saham Facebook anjlok 19% menjadi $176,26 saat ditutup pada Kamis. Ini membuat nilai Facebook turun sekitar $100 miliar yang diyakini sebagai penurunan nilai pasar terburuk dalam satu hari untuk perusahaan mana pun.
Penurunan datang satu hari setelah perkiraan pendapatan untuk kuartal kedua meleset. Ini juga memperingatkan bahwa pertumbuhan akan jauh lebih lemah dari perkiraan sebelumnya.
Chief financial officer David Wehner memperingatkan pada Rabu (25/7) bahwa pertumbuhan pendapatan sudah melambat pada kuartal kedua dan akan turun oleh persentase digit tunggal yang tinggi di kuartal mendatang.
Pada satu titik, saham Facebook diperdagangkan turun sebanyak 24%. Ini adalah penurunan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada sebuah perusahaan besar.
Analis Jefferies & Co, Brent Thill mengatakan bahwa banyak investor mengalami kesulitan untuk menerima perlambatan itu. Sepertinya besarnya melampaui apa yang telah terlihat.
Brian Sheehan, seorang profesor komunikasi dan periklanan di Syracuse University mengatakan, ramalan yang lemah itu membuat investor gugup tentang masalah jangka panjang yang lebih mendasar dengan jejaring sosial yang sangat besar.
"Dengan atau tanpa masalah privasi, investor takut bahwa interaksi Facebook, terutama dengan mereka yang berusia di bawah 25 tahun, jatuh," kata Sheehan.
Untuk kuartal kedua, laba naik 31% menjadi $5,1 miliar; pendapatan naik 42% menjadi $13,2 miliar, sedikit di bawah perkiraan.
Facebook melaporkan basis penggunanya masih tumbuh tetapi tidak secepat yang diharapkan. Pengguna aktif bulanan naik 11% menjadi 2,23 miliar - di bawah sebagian besar perkiraan 2,25 miliar.
Richard Windsor, seorang analis teknologi yang menulis blog Radio Free Mobile, mengatakan bahwa prospek baru seharusnya tidak mengejutkan.
Windsor menambahkan bahwa Facebook terpaksa mempekerjakan lebih banyak orang untuk menangani tugas-tugas seperti memfilter konten yang tidak pantas setelah menemukan batas kecerdasan buatan.
Hingga Rabu, saham Facebook telah mencapai rekor tertinggi karena para investor tampaknya mengabaikan kekhawatiran tentang perlindungan data dan penyelidikan terhadap pembajakan informasi pribadi oleh konsultan politik Cambridge Analytica.
Chief executive Mark Zuckerberg mengatakan Facebook telah banyak berinvestasi dalam keselamatan, keamanan dan privasi setelah diguncang kekhawatiran manipulasi platform untuk menyebarkan informasi yang salah.
Namun beberapa analis mengatakan terlalu dini untuk menghapus Facebook atau prospek pertumbuhannya, dan bahwa perusahaan mungkin hanya memperingatkan skenario terburuk.
"Perusahaan ini memiliki rekam jejak pengaturan ulang pertumbuhan pendapatan dan ekspektasi pengeluaran hanya untuk berbalik dan melampaui harapan tersebut pada kuartal berikutnya," kata Gene Munster dari Loup Ventures.
Analis RBC Capital Markets Mark Mahaney mengatakan penurunan itu menciptakan peluang pembelian yang langka untuk saham Facebook.
"Facebook masih memiliki dua aset media terbesar di dunia (Facebook dan Instagram) dan dua aset perpesanan terbesar di dunia (Messenger dan WhatsApp)," kata Mahaney. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved