Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA Konferensi AIDS Internasional di Amsterdam, dokter bertugas meresepkan metadon, pengganti heroin legal, kepada para anggota delegasi yang berjuang mengurangi menggunakan obat (withdrawal).
Nelda de Grave, spesialis kecanduan, tidak yakin dia akan menemukan banyak pecandu. Namun, dia menganggap tugasnya hanya memastikan pencandu di antara peserta konferensi tidak sakit, tidak withdrawal, dan cukup baik mengikuti proses konferensi.
Tiga orang telah meminta resep pada Selasa (24/7) saja.
Satu lantai ke bawah, di ruang advokasi besar di tempat konferensi, di stan Harm Reduction, terdapat tumpukan kotak-kotak jarum steril khusus bagi pengguna narkoba suntik yang mungkin membutuhkan.
Bagi banyak anggota delegasi, tampaknya itu terlalu bagus untuk diwujudkan. "Kami diminta (penyelenggara konferensi) untuk siap terutama bagi orang-orang dari Eropa Timur dan (tengah) Asia," kata De Grave kepada AFP.
Ini wilayah yang disebut para ahli undang-undang sebagai obat menindas dan memicu penyebaran HIV melalui jarum yang tercemar.
Infeksi virus perusak sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan AIDS ini meningkat 30% di wilayah itu sejak 2010.
"Menggunakan metadon jelas tidak umum di negara-negara ini. Jadi, hanya untuk menghadiri konferensi dengan baik, Anda harus memiliki beberapa obat," kata De Grave. "Itulah alasan kita di sini."
Bagi ahli epidemiologi dan kesehatan masyarakat, Chris Beyrer, kebijakan obat progresif benar-benar dapat menjadi bagian penting dalam mengendalikan epidemi HIV.
Ingrid Bakker, salah satu penasihat Harm Reduction yang ditempatkan di konferensi itu, mengatakan sekitar 20 orang telah menggunakan layanan itu dalam tiga hari pertama. "Kami punya banyak barang," katanya kepada AFP sambil menunjuk di sekitar stan kecil. "Sebagian besar untuk disuntikkan."
"Di Belanda kami memiliki heroin dengan kualitas yang sangat baik sehingga ada banyak orang yang tidak menyuntikkan heroin tetapi mereka mengisapnya dari foil," kata Bakker.
Menurut Ann Fordham, yang memimpin International Drug Policy Consortium, sebuah jaringan advokasi, ada peningkatan 30% penderita HIV di antara orang-orang yang menyuntikkan narkoba di seluruh dunia antara 2011 dan 2015.
"Kurang dari 1% orang yang menyuntikkan narkoba tinggal di negara-negara yang ada tempat penukaran jarumnya," katanya.
Sebuah laporan dari Harm Reduction International bulan ini mengatakan pendanaan untuk layanan semacam itu di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah telah hilang dalam satu dekade terakhir.
Pada 2016, US$188 juta dialokasikan sama seperti pada 2007. "Sesederhana itu sehingga kehidupan orang-orang yang menggunakan narkoba diabaikan," kata laporan itu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved