Melawan Perusakan Cagar Alam Gile

AFP/Denny Parsaulian Sinaga/I-1
24/7/2018 08:10
Melawan Perusakan Cagar Alam Gile
(AFP/Chiara Frisone)

DARI kejauhan, Cagar Alam Gile di Mozambik Utara ialah lautan hijau yang luas dan lebat hingga mencapai cakrawala.

Kawasan hutan seluas 2.800 kilometer persegi itu tampaknya dilestarikan secara meyakinkan. Harta karun kayu kerasnya itu dilindungi hukum oleh Mozambik. Namun, jika dilihat lebih dekat, hutan ini memiliki bekas luka yang dalam akibat pembalakan liar yang merajalela dan pertumbuhan penduduk yang tiada henti. Kondisi itu menjadi saksi atas tantangan kehidupan nyata tentang cara melindungi permata hijau itu. Batang-batang melintang di jalan menuju ke cagar, sementara nun jauh di sana tampak truk-truk menumpuk tinggi kayu yang disita pihak berwenang. Truk itu berdiri diam, berkarat dibalut gulma.

“Pembalakan liar ialah masalah besar antara 2014 dan 2016,” kata manajer cagar alam tersebut Jose Mohamede Dias. “Tantangan lainnya ialah kebakaran hutan yang digunakan dalam perburuan dan pertanian untuk menghasilkan makanan oleh penduduk setempat.”

Kebakaran menjadi penyebab utama penyusutan drastis hutan dalam beberapa tahun terakhir. Penduduk setempat membakar banyak pohon untuk membuka lahan subur. Setelah ladang habis, para petani membakar lebih banyak pohon, dan seterusnya.

Populasi cagar alam itu, saat ini lebih dari 10 ribu, telah menyusut dalam beberapa tahun terakhir, dan semakin menekan ekosistem. Sekitar 7 juta hektare hutan tropis terbakar setiap tahun di seluruh dunia, menurut perkiraan PBB. Penyebab lainnya penyusutan cagar alam itu ialah pembuatan arang, yang menjadi sumber panas di rumah-rumah penduduk di kawasan itu. Cagar alam itu sejak lama menjadi sasaran pembuatan arang.

Untuk menghentikan perusakan itu, kelompok lingkungan Prancis Nitidae menawarkan bantuan praktis dan berteknologi rendah kepada para petani kecil tentang cara menggunakan lahan secara berkelanjutan.

Salah satu penerima manfaat ialah Alexandre Soares, yang mendaftar setahun lalu dalam skema pelatihan tentang cara mengatasi kekeringan dan mempertahankan kesuburan tanah.

“Mereka menjelaskan bahwa saya harus meninggalkan pohon-pohon tertentu di tempat untuk menyeimbangkan ekosistem. Daun mereka membusuk dan menyuburkan tanah untuk musim berikutnya,” katanya.

Pakar lanskap Dinis Augusto melihat tanaman Soares yang beragam, termasuk jagung, ubi kayu, dan kacang-kacangan. “Pencampuran tanaman ini memungkinkan kami untuk menjamin kelangsungan hidup tanah sehingga para petani dapat menghabiskan lebih banyak waktu di lahan dan tidak perlu mencari lahan baru,” katanya.

Saran dari proyek percontohan itu perlahan-lahan menyebar ke  masyarakat sekitar dan memberikan hasil panen yang lebih baik. Ini memberi dorongan kuat bagi masyarakat lain untuk mengikuti langkah-langkah itu.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya