Tiongkok Selidiki Baja Indonesia

Denny Parsaulian Sinaga
24/7/2018 07:40
Tiongkok Selidiki Baja Indonesia
(MI/Rommy Pujianto)

TIONGKOK meluncurkan penyelidikan antidumping terhadap produk-produk baja tahan karat (stainless steel) yang diimpor dari Indonesia, Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan senilai US$1,3 miliar. Impor baja dari negara-negara tersebut telah meningkat tiga kali lipat tahun lalu.

Penyelidikan itu dilakukan termasuk terhadap sebuah perusahaan baja swasta negeri itu yang beroperasi di luar negeri. Penyelidikan dilakukan setelah produsen baja lokal mengeluhkan banjirnya produk impor sehingga menghancurkan industri dalam negeri.

"Penyelidikan oleh Tiongkok difokuskan pada stainless steel billet dan stainless steel hot-rolled plate," demikian pernyataan yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan Tiongkok, kemarin.

Keluhan awal diajukan perusahaan Shanxi Taigang Stainless Steel, dengan dukungan dari lima produsen lain, termasuk satu anak perusahaan raksasa industri Baosteel.

Tiongkok mengimpor 703.105 ton produk baja tersebut pada 2017 atau naik 189% dari tahun sebelumnya dengan 98% di antaranya berasal dari daerah yang ditargetkan penyelidikan. Demikian kata pihak Shanxi Taigang dalam protes mereka.

"Industri domestik Tiongkok yang menghasilkan produk yang sama telah mengalami kerusakan substansial dan ancaman kerusakan besar," kata perusahaan tersebut.

Perusahaan itu menyalahkan impor besar-besaran dan dumping karena memiliki dampak negatif yang signifikan pada harga produk domestik.

Sasaran utama protes itu ialah delapan produsen asing. Namun, sejumlah perusahaan Tiongkok, termasuk salah satunya Tsingshan Stainless Steel, produsen baja terbesar dunia yang beroperasi di Indonesia, dan 19 pedagang mengimpor produk perusahaan itu.

Sejumlah perusahaan swasta Tiongkok membuka dan mengoperasikan pabrik di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir karena memiliki sumber daya nikel yang besar dan biaya produksi yang rendah.

Para analis mengatakan sebagian besar produksi pabrik tersebut dijual ke Tiongkok.

 

Produsen terbesar

Tiongkok sejauh ini merupakan produsen baja terbesar di dunia yang digunakan untuk melawan korosi di gedung, transportasi, dan kemasan. Tiongkok memproduksi stainless steel lebih dari 831 juta ton pada 2017. Shanxi Taigang menyumbang 25% hingga 35% dari total produksi baja negara itu pada 2017.

Peter Peng, konsultan senior di CRU Beijing, mengatakan penyelidikan itu total dipicu persaingan antara perusahaan milik negara dan perusahaan baja swasta yang berkembang pesat. "Karena biaya produksi yang murah, mereka (perusahaan swasta) lebih kompetitif jika dibandingkan dengan produk-produk Tiongkok," kata Peter.

Langkah penyelidikan yang dilakukan pemerintah Tiongkok dilakukan saat logam masih menjadi fokus ketegangan perdagangan global.

Pada musim semi ini, Amerika Serikat telah memberlakukan tarif yang tinggi terhadap impor baja dan aluminium dari produsen-produsen utama, termasuk Tiongkok. 'Negeri Paman Sam' itu beralasan serangan logam impor itu telah melukai industri AS dan mengancam keamanan nasional.

Meskipun langkah-langkah pemerintah Tiongkok itu sebagian besar ditujukan untuk kelebihan kapasitas di negeri itu, langkah Beijing kemarin menjadikan mereka sebagai pemerintah pertama yang melakukan tindakan terhadap masalah ini setelah salah satu produsen lokal menyerukan penyelidikan terjadi dugaan dumping.   (AFP/I-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya