MENTERI Senior Guinea Francois Lounceny Fall
mengatakan, Senin (20/4), semua negara harus terus memberikan dukungan
yang kuat bagi perjuangan Palestina. Masalah Palestina juga dinilainya
sebagai hal mendasar dalam menyelesaikan konflik keamanan dan perdamaian
di dunia.
"Palestina memiliki hak untuk menjadi negara merdeka.
Kita harus menghormati hak-hak rakyat Palestina dan hak-hak tersebut
tidak bisa dinegosiasi," ungkap politikus senior yang pernah menjabat
perdana menteri selama beberapa bulan tersebut di Jakarta Convention
Center (JCC).
Lounceny Fall menilai deklarasi yang akan diadopsi
dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) kali ini sangat bagus. Pasalnya, kata
dia, semua langkah memang harus ditujukan untuk mendukung hak semua
bangsa, termasuk rakyat Palestina untuk memiliki negara yang berdaulat.
"Saya pikir semua menteri/utusan di KAA mendukung Palestina. Kita
sepakat bahwa rakyat Palestina punya hak memiliki negara mereka sendiri,
dan kita harus terus mendukung mereka."
Keamanan dan terorisme Lounceny
Fall juga menyoroti fenomena kelompok ekremisme dan terorisme yang
berkembang di banyak wilayah di dunia. Menurutnya ideologi dan gerakan
yang diusung kelompok ekstremis semisal Islamic State (IS) sangat
bertentangan dengan ajaran Islam yang mengedepankan nilai-nilai
perdamaian dan toleransi.
Dia mengimbau semua pihak di tingkat
negara dan lintas benua untuk terlibat aktif menjaga keamanan dunia dan
bersama-sama memerangi pengaruh gerakan radikalisme atau ektremisme.
Menurutnya, salah satu faktor yang membuat kelompok ektremis berkembang
begitu cepat adalah persoalan kemiskinan. Masalah kemiskinan membuat
orang-orang cenderung mudah terdorong untuk terlibat dalam kegaiatan
ektremisme.
"Saya pikir setiap negara harus berjuang melawan
masalah kemiskinan di manapun di dunia ini. Kita juga harus menyediakan
akses pendidikan bagi warga," ujarnya. Secara terpisah, Wakil Menteri
Luar Negeri Kyrgyzstan, Otorbaev Erines, menggambarkan radikalisme
sebagai masalah besar dewasa ini. Krigistan di wilayah Asia Tengah juga
sangat khawatir terhadap tren perkembangan radikalisme di dunia.
"Kedua
masalah itu trennya sangat buruk di dunia saat ini," tegas Erines,
sembari menambahkan, "Jumlah populasi muslim di Kyrgyzstan cukup besar
tetapi kami tidak memiliki masalah terkait radikalisme. Kami mendapat
ancaman (radikaslisme) dari kawasan."
Semua negara, lanjut dia,
harus menyatukan tekat untuk menemukan solusi yang tepat dalam memerangi
dan mengurangi masalah radikalisme. Termasuk ide pembentukan joint task
force. "Itu merupakan salah satu ide bagus, bahwa kita membutuhkan task
force bersama berskala global, tidak hanya PBB. Tetapi kita butuh
pasukan real yang berbuat sesuatu." (Q-1)