Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DI Kota Kumano, Jepang, yang hancur, Kosuke Kiyohara duduk dengan tenang.
Sambil menunggu berita tentang saudara perempuan dan keponakannya yang hilang, Kiyohara menyaksikan para pekerja penyelamat mendorong dan membalik puing-puing rumah yang hancur.
"Saya telah meminta keluarga saya mempersiapkan diri untuk yang terburuk," kata pria berusia 38 tahun itu dengan tenang sambil duduk di seberang sebuah rumah yang telah hancur oleh tanah longsor besar.
"Aku belum bisa menghubungi teleponnya sejak Jumat malam."
Puluhan orang masih hilang di seluruh bagian Jepang Tengah dan Barat yang porak-poranda oleh rekor curah hujan yang telah menyebabkan banjir dan tanah longsor di Jepang. Banjir ini telah menewaskan 100 orang.
Saudari Kiyohara yang berusia 44 tahun dan dua putranya masih hilang di bawah reruntuhan yang dulunya merupakan lingkungan modern di Kumano. Kumano ialah kota di Hiroshima yang terkenal akan pembuatan kuas.
Suaminya telah diselamatkan dan dibawa ke rumah sakit. Namun, tidak ada tanda-tanda adiknya dan anak-anak mereka.
"Saya pertama kali datang ke sini pada Sabtu dan saya langsung berpikir tentang skenario terburuk," katanya.
Kemarin pagi, hari-hari hujan akhirnya mereda dan sinar matahari yang cerah menerangi kehancuran yang disebabkan hujan.
Di Kumano, hujan deras melongsorkan bukit di sekitarnya dan mengirim gelombang lumpur ke rumah-rumah di bawah bukit.
Jalan menuju daerah yang terkena tetap tidak dapat dilewati.
Naoaki Ogawa, 69, ialah salah satu warga yang beruntung kembali, kemarin. Rumahnya masih berdiri dan tidak rusak.
Namun, dia menggambarkan pelariannya di menit-menit terakhir yang mengerikan pada Jumat malam saat tanah longsor terjadi.
Dia berada di rumah bersama dengan istrinya, putri, dan cucu lelaki ketika mereka melihat gelombang lumpur meluncur deras menuju rumah mereka.
"Tepat sebelum gelombang pertama, saya mendengar suara gemuruh yang sangat keras dari pegunungan," katanya.
Namun, satu-satunya jalan keluar dari lingkungan itu sudah tersumbat oleh orang-orang yang berusaha melarikan diri dan bebatuan terbang mulai menabrak mobil. "Aku membelokkan mobil ke kanan dan melihat gelombang lumpur lain meluluh turun di tempat kami dan menyapu tiga mobil yang ada di depanku."
Tanpa jalan keluar, keluarga itu tetap di dalam mobil sampai regu penyelamat tiba malam itu.
Pada Sabtu, ulang tahun Ogawa, mereka pindah ke rumah kerabat. "Itu ulang tahun terbaik yang pernah ada. Saya bisa saja meninggal pada usia 68 tahun 364 hari," katanya.
"Rumahku baik-baik saja. Bagaimana dengan tetanggaku?" katanya. "Aku ingin kembali ke rumahku dan menjalani kehidupan normal, tapi aku juga takut ini bisa terjadi lagi."
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved