RIBUAN pengunjuk rasa dari seluruh penjuru Spanyol, kemarin, berkumpul di alun-alun utama Kota Madrid memprotes kebijakan pemerintah yang menerapkan langkah-langkah penghematan yang keras.
Unjuk rasa tersebut terjadi pada malam pemilihan di salah satu daerah di selatan Spanyol, Andalusia.
Pemilihan di Andalusia, yang merupakan salah satu kota termiskin di Spanyol, dipandang sebagai ujian nasional menjelang pemilihan umum yang paling tidak bisa diprediksi dalam beberapa dekade terakhir.
Spanduk besar bertuliskan, 'Makanan, pekerjaan, rumah, dan martabat' dibawa para demonstran yang akhirnya bergabung dengan demonstran lainnya di alun-alun Plaza de Colon.
Para pengunjuk rasa menyuarakan ketidakpuasan mereka dengan kebijakan penghematan luar biasa yang dilakukan pemerintah dengan melakukan pemotongan pengeluaran sebanyak US$162 miliar. Hal itu berdampak negatif pada pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kehidupan sosial.
Kepolisian Spanyol mengerahkan sekitar 1.200 petugas untuk mengamankan unjuk rasa yang disebut sebagai 'Marches of Dignity'.
Para pengunjuk rasa berkumpul dengan sekitar 300 kelompok aksi sosial dan serikat buruh menuntut makanan, pekerjaan, rumah, dan martabat dari pemerintah. Mereka juga mengancam melakukan pemogokan pada Oktober.
"Kami berkumpul di sini mewakili para pemuda karena di Extremadura hampir 60% pemuda tidak memiliki pekerjaan," ujar salah satu pengunjuk rasa, Antonio Laso.
"Ini saatnya kami menuntut hak kami," tegas Antonio Colmenar, aktivis organisasi antipenggusuran, yang mengaku telah berjalan dari Sevilla untuk bergabung dengan para pengunjuk rasa di Madrid.
Pria 41 tahun itu mengungkapkan ia belum memutuskan apakah dia akan memberikan suara untuk Podemos, partai yang antipenghematan, atau Ciudadanos, partai yang mengampanyekan melawan korupsi dan pengangguran.
Kedua partai tersebut telah mendominasi politik Spanyol selama lebih dari 30 tahun, dengan Podemos memimpin jajak pendapat terbaru setelah mengalami kenaikan popularitas sejak Januari silam.
Unjuk rasa tersebut berlangsung dengan damai. Namun, kekacauan sempat terjadi setelah unjuk rasa berakhir. Polisi antihuru-hara bentrok dengan sekitar 200 pengunjuk rasa yang menyerang bank dan mobil polisi.
Polisi mengatakan mereka telah menangkap 17 orang terkait dengan aksi vandalisme dan perusakan tersebut.
Spanyol mengalami pertumbuhan ekonomi sebanyak 1,4% pada 2014. Akan tetapi, setelah krisis yang berlangsung selama enam tahun, perekonomian di negara tersebut masih babak belur dengan tingkat pengangguran mencapai 23,7%. Setengah dari pemuda berusia antara 16 dan 25 di sana tidak memiliki pekerjaan. (AFP/AP/Pra/I-2)