100 Tokoh Dunia Bahas Jalan Tengah Hadapi Kerusakan Peradaban di Jakarta

Micom
03/7/2018 20:40
100 Tokoh Dunia Bahas Jalan Tengah Hadapi Kerusakan Peradaban di Jakarta
(MI/ADAM DWI )

CENTRE for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) telah enam kali menyelenggarakan World Peace Forum (WPF) sejak 2006. Dengan semangat One Humanity, One Destiny, One Responsibility, para pemimpin agama, pembuat kebijakan, intelektual, politisi, dan aktivis dari berbagai latar belakang dan kebangsaan yang terlibat dalam dialog produktif berkomitmen untuk menciptakan dunia yang lebih aman dan lebih damai bagi seluruh umat manusia.

Untuk mendukung komitmen itu, kali ini dengan didukung Kantor Utusan Khusus Presiden untuk Dialog Kerja Sama Antaragama dan Peradaban  (UKP-DKAAP), Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC), bersama organisasi sosial pendidikan Malaysia, Cheng Ho Multi Culture Trust of Malaysia, menyelenggarakan WPF ke-7 di Jakarta.

WPF sebelumnya berfokus pada konsolidasi demokrasi multikultural, sementara WPF ke-7 kali ini mengambil tema 'The Middle Path for the New World Civilization'.

Kegiatan yang diselenggarakan dua tahunan ini akan diselenggarakan pada 14-16 Agustus 2018 di Jakarta. Merupakan ajang pertemuan diantara para pencipta perdamaian peace maker di dunia, baik dari kalangan tokoh agama, kalangan intelektual, pengusaha, dan pembuat kebijakan.  

Diselenggarakan sudah enam kali sejak 2006. Tema besar WPF sejak kali pertama adalah One Humanity, One Destiny, One Responsibility, sebagai tema besar yang setiap penyelenggaraan dua tahunan diturunkan kedalam tema-tema yang bersifat lebih praktis. Seperti tema peace education, resolution conflict, mengatasi konflik di berbagai belahan dunia.

Pada WPF ke-7 ini mengangkat tema The Middle Path for the New World Civilization, jalan tengah sebagai solusi terhadap peradaban dunia. Peradaban dunia yang bersifat kerusakan yang akumulatif, dunia yang tak menentu, dunia yang mengalami kekacauan. Inilah semangat yang ingin ditanggulangi dengan suatu wawasan atau paradigma, yaitu paradigma jalan tengah, baik dari perspektif agama maupun ideologi nasional.

WPF ke-7 akan dibuka oleh Presiden RI Bapak Joko Widodo dan ditutup oleh Wakil Presiden Bapak Jusuf Kalla, dihadiri oleh sekitar seratus tokoh dunia baik cendekiawan, tokoh agama, tokoh politk, pembuat kebijakan dari berbagai negara untuk membicarakan tema ini.
Secara khusus pada WPF 7 ini mengundang kepala negara atau mantan kepala negara dan penerima nobel perdamaian. Perdana Menteri Malaysia Dr Mahathir Muhammad, mantan PM Australia Kevin Ruds, juga mantan PM Selandia Baru Ms Helen Klark, serta sejumlah tokoh pemerintah lain.  Total peserta dari dalam dan luar negeri sekitar 250 peserta. WPF ke-7 ini diselenggarakan bersama Kantor Utusan Kgusus Presiden DAAK, CDCC, mitra tetap Chengho Multiculture and Education Trust.

Dalam keterangannya, Utusan Khusus Presiden untuk Dialog Kerja Sama Antaragama dan Peradaban Prof Din Syamsuddin, para tokoh nanti akan bicara dalam leadership forum untuk mengelaborasi tema the middle path for the new civilization.

Sesi berikutnya secara khusus membicarakan wawasan jalan tengah dari tokoh-tokoh agama, dari tokoh Islam  membawakan Islam wasathiyah, juga tentu tokoh Hindu, Budha dan lain-lain membicarakan jalan tengah  dari perpsektif agama masing masing.

Sesi berikutnya membahas jalan tengah dari perspekif idelogi negara negara, Pancasila sebagai the middle path, juga dari negara lain dengan ideologi nasionalnya bisa dilihat sebagai manifestasi jalan tengah.

Sesi berikutnya membahas middle path dari perspektif ekonomi, politik, dan budaya.

"Inilah tawaran Indonesia pada sistem dunia baru yang bertumpu pada the middle path, menanggulangi krisis peradaban dunia, kekacauan peradaban," papar Din.

Lebih lanjut Din mengatakan, pihaknya sangat ingin terlibat menanggulangi proses perdamaian. "Karena penilaian kita, peradaban dunia ini terjebak pada ekstremitas, terutama liberalisme yang absolut, yang mengejawantah dalam berbagai aspek kehidupan, politik, budaya, ekonomi. Kita punya Pancasila, revitalisasi Pancasila kita lakukan sebagai jalan tengah, termasuk UUD 1945. Inilah hasrat kita Indonesia ingin promosikan Pancasila sebagai jalan tengah, sekiranya menjadi pertimbangan dari masyarakat internasional dalam menanggulangi krisis peradaban dewasa ini," katanya.

Sementara itu Ketua Yasasan CDCC, Prof Didiek Rachbini menekankan pentingnya tema besar jalan tengah ini untuk diangkat bagi kepentingan kebangsaan. "Jalan ekstrem ke kiri atau ke kanan terbukti telah menimbulkan korban kemanusiaan besar, seperti terjadi di berbagai negara," katanya mengingatkan.

Ketua Panitia, Dr Muhammad Najib, melihat populisme yang melanda dunia yang dipicu dan dipacu oleh masifnya penggunaan media sosial, telah melahirkan berbagai sentimen primordial yang di Indonesia dikenal dengan akronim SARA. Berbagai sentimen yang timbul bermuara pada ekstremisme, khususnya dalam beragama dan berpolitik. Tindakan-tindakan ekstrem hanya akan menimbulkan masalah baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Lebih lanjut ia menggaris bawahi perlunya upaya bersama meredam dan mencegahnya. Tema Midle Path yang dipilih kali ini adalah sebagai bentuk upaya untuk itu, yang dalam Islam memiliki makna serupa yaitu Islam Wasatiah, atau Islam jalan tengah.

Istilah Midle Path dipilih dengan harapan bisa menjadi common platform dari berbagai peserta yang memiliki latar belakang agama yang berbeda, sistem politik yang berbeda, budaya yang berbeda, dan perbedaan-perbedaan lain.

"Semoga inisiatif Indonesia ini akan membuat dunia kita kedepan lebih aman, lebih damai, dan lebih makmur dengan menurunnya berbagai kekerasan yg ditimbulkan akibat meningkatnya ekstemisme," pungkas Najib. (RO/OL-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya