AASCS Siap Digelar dalam Rangkaian KAA

Andhika Prasetyo
09/4/2015 00:00
AASCS Siap Digelar dalam Rangkaian KAA
(ANTARA FOTO/Andika Wahyu)
Saat ini, negara-negara di Asia dan Afrika memiliki berbagai masalah yang hampir serupa. Dan Asia Africa Smart City Summit (AASCS) diharapkan dapat membantu negara-negara di dua benua tersebut untuk mencapai jalan keluar dari masalah-masalah yang dihadapi.

Prof. Dr. Suhono H. Supangkat, ketua penyelenggara AASCS, mengatakan bahwa 60 tahun yang lalu, saat Konferensi Asia Afrika pertama kali diselenggarakan, permasalahan yang dihadapi oleh negara-negara di regional tersebut adalah kemerdekaan. Bagaimana agar mereka bisa lepas dari penjajahan, bagaimana mereka bisa mandiri, dan bagaimana seluruh negara di dua wilayah berbeda tersebut bisa bersatu bekerjasama. Namun, saat ini, permasalahan yang dialami sangat berbeda.

"Kini yang permasalahan yang dialami adalah populasi yang berlebih, masalah lingkungan, polusi, krisis energi, dan transportasi. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang terjadi 60 tahun lalu," ujar Suhono. "AASCS, yang baru pertama kali diselenggarakan, berupaya menawarkan solusi bagi negara-negara Asia Afrika untuk berkolaborasi dan belajar satu sama lain untuk memecahkan masalah yang dihadapi," lanjutnya.

AASCS diselenggarakan untuk mendorong keberlanjutan sistem perkotaan dan berkolaborasi dalam mempromosikan negara di benua Asia dan Afrika serta mengembangkan ide-ide dengan sistem kota cerdas. "Kota cerdas bukanlah kota yang banyak dihuni oleh orang dengan IQ tinggi, atau kota dengan penuh teknologi canggih. Namun kota cerdas adalah dimana sebuah kota tersebut nyaman dan aman untuk ditinggali," imbuh Suhono. Pria yang juga merupakan dosen Institut Teknologi Bandung tersebut juga mengatakan bahwa penyelenggara sudah mengundang beberapa ahli dari Barcelona, Amsterdam dan Jepang yang ahli dalam hal pengelolaan dan pemodelan kota.

"Kami telah mengundang beberapa ahli City Protocol, organisasi yang mengurus tata kelola dan pemodelan kota. Beberapa dari Eropa, ada juga yang dari Asia," paparnya. "Memang tidak ada satu kotapun di dunia yang sudah benar-benar menyandang predikat Smart City secara sempurna, namun ada beberapa di antaranya yang sudah mendekati, seperti Vienna dan Barcelona."

Ia mengatakan bahwa Kota-kota di Indonesia tidak mungkin mengadopsi secara penuh tata kelola yang diterapkan di Indonesia, karena memiliki permasalahan dan budaya yang berbeda. Namun dengan adanya para ahli, permasalahan tersebut mungkin bisa ditemukan jalan keluarnya. Suhono menjabarkan beberapa poin yang menjadi pokok permasalahan utama yang nantinya akan dibahas di AASCS. Poin-poin tersebut adalah model kota cerdas, bencana dan lingkungan, pemerintahan yang cerdas, penggunaan energi, model bisnis kota cerdas, transportasi, generasi muda dan enterpreneurship, masyarakat cerdas, sistem pembayaran cerdas dan yang terakhir kesehatan. AASCS sendiri adalah rangkaian acara dari KAA yang akan diselenggarakan di Jakarta dan Bandung, Indonesia. AASCS akan diselenggarakan selama dua hari, yaitu 22 dan 23 April 2015. (Pra)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya