Pemilu Turki di Tengah Gejolak Ekonomi

Irene Harty
23/6/2018 06:00
Pemilu Turki di Tengah Gejolak Ekonomi
(AFP/YASIN AKGUL)

TURKI akan melakukan pemilihan umum (pemilu) pada Minggu (24/6) untuk memilih anggota parlemen dan lebih penting lagi, presiden. Amendemen yang dibuat konstitusi pada tahun lalu akan memberikan kekuasaan eksekutif baru kepada presiden.

Parlemen memajukan pemilu, yang semula dijadwalkan pada 3 November 2019.

Pemilihan parlemen akan menentukan 600 anggota parlemen yang masuk, naik dari 550, dan usia minimum untuk anggota akan menjadi 18, diturunkan dari 25 oleh amendemen konstitusi 2017.

Dalam sistem parlementer saat ini, Partai Keadilan dan Pembangunan Konservatif (AK Party) memerintah negara mengendalikan sekitar tiga perlima kursi di parlemen setelah Pemilihan Umum November 2015.

Hal itu diikuti partai oposisi utama kanan-tengah Partai Rakyat Republik (CHP), Partai Demokrat Rakyat (HDP) pro-Kurdi, Partai Aksi Nasionalis kanan-jauh (MHP), dan Partai IYI (Baik) sayap kanan yang baru terbentuk.

Enam politikus tercatat menjadi kandidat dalam pemilihan presiden, yang dapat dilakukan dalam satu atau dua putaran.

Erdogan telah berkuasa selama lebih dari 15 tahun, baik sebagai perdana menteri atau presiden, dan telah memimpin transisi ekonomi Turki ke pasar berkembang.

Muharrem Ince, 54, ialah kandidat CHP dan telah menjadi wakil partai sejak 2002 dan bertindak sebagai wakil ketua kelompok wakil parlemen CHP antara 2010 dan 2014.

Meral Aksener, 61, ialah politikus nasionalis populer yang memimpin partai sayap kanan muda, Partai IYI, dan pernah menjabat menteri dalam negeri serta wakil ketua parlemen.

Selahattin Demirtas, 45, kandidat yang dipenjarakan HDP yang pro-Kurdi, ialah mantan wakil ketua partainya yang membawanya ke politik arus utama dengan menarik pemilih muda yang liberal.

 

Nilai lira menyusut

Pada akhir pekan, gejolak mata uang Turki, lira, terus menunjukkan penurunan meski Erdogan telah meminta warga Turki untuk mengonversi tabungan mata uang asing ke lira.

Lira, yang telah jatuh sekitar 15% tahun ini, mencapai terendah 4,93 terhadap dolar AS pada Rabu (20/6) sebelum bank sentral Turki menaikkan suku bunga utamanya dengan tiga poin persentase menjadi 16,5%.

Lembaga pemeringkat kredit Moody's memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Turki.

Charles Robertson, kepala ekonom global di Renaissance Capital, menjelaskan perubahan besar dalam mata uang disebabkan peningkatan besar-besaran utang sektor swasta di Turki selama 10-15 tahun terakhir.

Robertson mengatakan utang sektor swasta Turki sekitar 70% dari PDB (produk domestik bruto), yang sebenarnya tidak masalah karena negara-negara lain juga mengalami peningkatan yang sama dalam 10 tahun.

Minggu ini, bank sentral mengumumkan perampingan suku bunga untuk fokus pada memiliki satu tingkat utama untuk meyakinkan investor.

"Kenaikan 300 basis poin telah membantu, dengan tingkat suku bunga naik sekitar 16%, tetapi juga selama beberapa tahun bank sentral telah berusaha menaikkan suku bunga tanpa memberi tahu pemilih di Turki mereka menaikkan suku bunga untuk mencoba dan menjaga Presiden (Erdogan) bahagia," kata Robertson.   (AlJazeera/I-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya