Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA merupakan salah satu negara yang terlibat bekerja sama dengan Inggris, Malaysia, dan Filipina untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman terkait dampak cuaca ekstrem dan perubahan iklim, mengingat Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan bencana alam, serta memiliki pengalaman dan teknologi dalam memberikan informasi peringatan dini cuaca dan iklim kepada masyarakat.
Bergabungnya Indonesia dalam kemitraan Jasa Ilmu Cuaca dan Iklim Asia Tenggara (WCSSP-SEA) bersama mitra-mitra dari Inggris, Malaysia, dan Filipina diharapkan dapat meningkatkan kemampuan untuk memahami, memprediksi, dan menyiapkan langkah-langkah pengurangan risiko bencana alam, seperti diutarakan Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimarologi, dan Geofisika (BMKG), Dr Herizal MSi.
“Dalam kemitraan, ilmuwan-ilmuwan Indonesia akan bekerja sama dengan para ilmuwan dari negara-negara peserta lainnya untuk memahami penyebab-penyebab cuaca ekstrem, meningkatkan ketepatan dan keandalan model-model cuaca dan iklim, juga memperbaiki sistem-sistem peringatan dini,” ujar Herizal melalui keterangannya, Kamis (21/6).
“Setiap tahun jutaan orang Indonesia terkena dampak cuaca ekstrem. Risiko-risiko yang dihadapi terus bertambah akibat perubahan iklim. Oleh karena itu, kita mendukung kememitraan Jasa Ilmu Cuaca dan Iklim Asia Tenggara (WCSSP-SEA) guna melakukan kerja sama dan memadukan keahlian-keahlian yang dimiliki, kita dapat membantu memperkirakan dan menangani dampak-dampak perubahan cuaca dan iklim," ujar Rob Fenn, Wakil Duta Besar Inggris.
WCSSP-SEA ini merupakan salah satu kegiatan yang didukung dana Newton sebesar 735 juta Pound yang dialokasikan hingga 2021 dari Pemerintah Inggris ditambah sumber-sumber yang setara dari negara-negara mitra.
Aktivitas kerja sama Newton Fund di Indonesia sudah dimulai sejak 2014 yang merupakan nota kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Inggris dan Indonesia yang telah disepakati 2015.
“Tujuan dana ini untuk mendukung perkembangaan ekonomi, kesejahteraan sosial dan perkembangan ekonomi serta mengembangkan kapasitas penelitian dan inovasi yang dilakukan 17 negara mitra, termasuk Indonesia, seperti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, LIPI, dan BMKG," imbuh Rob Fenn.
Lebih lanjut Rob mengaku senang Indonesia turut serta dalam kemitraan di kawasan ini dan membawa keahlian, pengetahuan, dan sumber-sumber yang dimiliki bersama para ilmuwan dari Inggris, Malaysia, dan Filipina.
Ia menuturkan dengan dukungan dari Newton Fund Pemerintah Inggris, WCSSP-SEA mengembangkan suatu jaringan kemitraan internasional yang dirancang untuk menangani tantangan global, yaitu perubahan iklim. Menurutnya, kerja sama ini dapat sebagai langkah saling tukar informasi dan ilmu pengetahuan yang mumpuni terkait cuaca dan iklim sehingga dapat mengurangi risiko dampak cuaca ekstrem.
“Kemitraan Jasa Cuaca dan iklim Asia Tenggara antara Inggris, Malaysia, dan Filipina ini dimulai pada 2017 dan saat ini Indonesia terlibat sebagai negara anggota keempat. Kemitraan ini antara Met Office UK-Inggris dan BMKG-Indonesia ini akan berlangsung selama tiga tahun,” imbuh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG, Dr Urip Haryoko MSi.
BMKG juga senang dapat menjadi tuan rumah untuk pertemuan ini, di mana ilmuwan-ilmuwan yang bergabung dalam WCSSP-SEA akan berbagi ilmu dan keahlian mereka.
"Untuk itu, kami menantikan kolaborasi ke depannya," kata Urip. (RO/OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved