DUA pelaku penembakan di Museum Bardo, Tunisia, telah diidentifikasi otoritas setempat. Salah seorang dari mereka merupakan mantan anggota intelijen Tunisia. "Para pelaku yang tewas tersebut bernama Yassine Laabidi dan Hatem Khachnaoui," ungkap Perdana Menteri Tunisia Habib Essid. Ia mengatakan pelaku yang bernama Yassine Laabidi pernah bekerja untuk badan intelijen. "Kami bersama negara-negara lain masih terus menggali informasi lebih mendalam mengenai para pelaku penembakan tersebut," imbuhnya.
Pihak berwenang tidak memberikan rincian tentang para penyerang. Namun, mereka mengatakan mungkin ada dua atau tiga pelaku lagi yang masih buron. Para penyerang yang mengenakan seragam militer dan bersenjatakan senapan keluar dari kendaraan dan menembaki para wisatawan di Museum Nasional Bardo. Pihak keamanan kemudian menghentikan aksi penembakan itu dan menembak mati dua pelaku penyerangan. Saksi mata sekaligus penyintas dalam peristiwa itu, Josep Lluis Cusido, mengatakan ia sedang berada di dalam museum ketika serangan terjadi.
Ia mengaku selamat karena bersembunyi di balik tiang besar. "Saya berhasil bersembunyi di balik pilar. Namun, beberapa orang lainnya tidak beruntung. Saya berbaring di lantai selama hampir 3 jam," kata Cusido yang merupakan Wali Kota Vallmoll, kota kecil di Spanyol. Ia mengaku melihat sekelompok orang turun dari mobil dan menembaki semua orang yang berada di museum. "Saya dapat melihat wajah mereka. Mereka hanya berjarak sekitar 10 meter dari saya. Mereka menembaki siapa saja yang bergerak," imbuhnya.
Informasi terakhir yang disampaikan media lokal menyebutkan penyerangan yang terjadi pada Rabu (18/3) tersebut menewaskan 21 orang. Mereka terdiri dari 17 wisatawan asing yang berasal dari Kolombia, Prancis, Polandia, Italia, Spanyol, Australia, dan Jepang, serta dua warga Tunisia beserta dua pelaku. Penyerangan tersebut merupakan yang terburuk di Tunisia dalam beberapa tahun terakhir dan mengguncang demokrasi di negara yang terbilang masih muda dan rapuh itu. Peristiwa mengerikan tersebut juga mengancam industri pariwisata di negara yang terkenal dengan pantai mediteranianya itu.
Dunia mengutuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dan beberapa negara lain seperti Amerika Serikat (AS), Prancis, dan Uni Emirat Arab (UEA) mengutuk serangan bersenjata tersebut. Dalam pernyataannya, Sekretaris Negara AS John Kerry mengatakan bahwa AS mengecam aksi penembakan tersebut. Ia juga memuji respons cepat pemerintah Tunisia dalam upaya mereka untuk mengatasi situasi dan memulihkan ketenangan di wilayah tersebut. Menteri Luar Negeri UEA juga menegaskan kembali dukungan negaranya untuk membantu Tunisia melawan terorisme. Adapun Presiden Prancis Francois Hollande juga telah menghubungi Presiden Tunisia untuk menawarkan dukungannya. "Kejahatan terorisme merupakan permasalahan kita semua," ujar Hollande.