Gerhana Diburu, Listrik Terganggu

AFP/Wendy Mehari Utami/I-2
20/3/2015 00:00
Gerhana Diburu, Listrik Terganggu
(AFP)
HANYA di Kepulauan Svalbard, Norwegia, dan Kepulauan Faroe, wilayah otonomi Denmark, gerhana matahari total yang diperkirakan terjadi hari ini, Jumat (20/3), waktu setempat, dapat terlihat.

Hampir 2.000 pelancong diperkirakan datang ke Svalbard yang berjarak 1.300 km dari Kutub Utara demi menyaksikan gerhana matahari total.

Suhu udara di sana mencapai minus 20 derajat celsius dan beruang-beruang kutub bakal berkeliaran.

Agnese Zalcmane, 30, pelancong asal Latvia, telah tiba di Svalbard, Rabu (18/3), bersama tujuh kawannya.

"Rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata," kata Zalcmane yang telah menyaksikan empat gerhana matahari di Siberia, Tiongkok, Australia, dan Kenya.

Hotel-hotel di Kota Longyearbyen di Svalbard, yang berpopulasi 2.100 warga, telah penuh dipesan.

Turis berdatangan dari penjuru dunia, demi menyaksikan gerhana matahari total satu-satunya tahun ini.

Hal serupa pun terjadi di Kepulauan Faroe yang berpopulasi 50 ribu orang, di sebelah utara Inggris. Delapan ribu pelancong diperkirakan datang ke sana.

"Fenomena ini memang menarik minat para pemburu gerhana," kata Victoria Sahami, astronom AS yang mengelola agen perjalanan khusus wisata astronomi.

Selain mengundang para pemburu gerhana, fenomena itu sekaligus memunculkan kecemasan di Eropa.

Gerhana akan melintasi Portugal hingga Finlandia pada pukul 09.00-12.00 waktu setempat.

Akibatnya, gangguan listrik bisa terjadi.

"Risiko kali ini tidak bisa dielakkan karena sekarang ini, pembangkit listrik tenaga surya sudah 100 kali lebih banyak ketimbang saat gerhana matahari terakhir kali terjadi pada 1999," demikian pernyataan Jaringan Sistem Transmisi Operator Listrik Eropa, Entso-e, Selasa (17/3).

Jika matahari bersinar terang sebelum gerhana terjadi, penurunan produksi energi listrik bisa mencapai 34 ribu megawatt (Mw), setara 80 pembangkit energi konvensional berukuran medium.

Sementara itu, jika langit mendung, penurunan produksi akan lebih dari itu.

"Sudah lebih dari setahun ini kami menyiapkan tim khusus guna mencegah pemutusan listrik akibat gerhana total," kata Konstantin Staschus, Sekretaris Jenderal Entso-e.

Cadangan listrik disiapkan, sumber produksi alternatif pun disiapkan, termasuk dam hidraulik di Prancis dan pembangkit energi berbahan gas dan batu bara di Jerman.

"Pusat-pusat kendali di Eropa terus berkoordinasi selama gerhana terjadi. Gerhana ini memang merupakan ujian yang belum pernah terjadi bagi sistem energi listrik Eropa," ungkap Staschus.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya