Paraguay akan Miliki Presiden Perempuan Pertama

Irene Harty
29/5/2018 18:55
Paraguay akan Miliki Presiden Perempuan Pertama
(AFP)

PARAGUAY akan memiliki presiden perempuan untuk pertama kali dalam sejarah meskipun untuk sementara setelah Horacio Cartes mengundurkan diri pada Senin (28/5) atau lebih cepat dari jadwal.

Wakil Presiden Paraguay, Alicia Pucheta, 68, akan menyelesaikan mandat Cartes yang memillih untuk menjadi seorang senator.

Sementara itu, presiden yang telah terpilih pada Pemilu 22 April, seorang konservatif, Mario Abdo Benitez, akan memulai masa jabatan lima tahunnya pada 15 Agustus.

Parlemen akan mengonfirmasi pengunduran diri Cartes dan menyatakan Pucheta sebagai presiden sementara pada Rabu (30/5).

Pucheta berasal dari Partai Colorado sayap kanan yang berkuasa di Asuncion selama beberapa dekade.

Dia menentang legalisasi aborsi.

Senator oposisi, Desiree Masi mengaku tidak melihat nominasi Pucheta sebagai kemajuan bagi perempuan di Paraguay.

"Seorang perempuan yang menunjukkan kepatuhan penuhnya kepada mereka yang berkuasa tidak mewakili kita. Suatu hari, seorang perempuan akan berkuasa sebagaimana seharusnya, melalui kotak suara," imbuhnya.

Berbeda pandangan, Lilian Samaniego, senator dari Partai Colorado, memuji aksesi mantan pengacara itu ke posisi presiden yang dapat memotivasi para perempuan Paraguay untuk terus memperjuangkan kesetaraan yang nyata.

Paraguay hanya memiliki delapan perempuan di antara 45 senatornya, dan 11 di antara 80 anggota majelis rendah.

Pengunduran diri Cartes sudah diperkirakan sejak dia terpilih menjadi anggota senat dalam pemilihan April.

Para senator baru akan dilantik pada 30 Juni.

Paraguay yang berada di antara Argentina, Bolivia, dan Brasil, menikmati pertumbuhan ekonomi yang konsisten selama masa kejayaan raja tembakau Cartes selama lima tahun, tapi gagal menyingkirkan kemiskinan, korupsi, dan perdagangan obat terlarang.

Meskipun kampanye resmi menyuarakan perlawanan terhadap korupsi, Paraguay tetap pada posisi 135 dari 180 negara pada indeks korupsi 2017 dari Transparency International. (AFP/OL-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya