Dipaksa Bekerja Lebih, Biksu Gugat Kuil

(AFP/Ire/I-1)
18/5/2018 06:00
Dipaksa Bekerja Lebih, Biksu Gugat Kuil
(ist)

SEORANG biksu menggugat kuilnya dengan tuduhan telah dipaksa bekerja tanpa henti untuk menyediakan makanan bagi para turis, dan beban kerja yang berat itu memberinya depresi.

Menurut pengacaranya, Noritake Shirakura, Kamis (17/5), biksu berusia sekitar 40 tahun ini menuntut 8,6 juta yen (US$78 ribu) dari kuilnya di Gunung Koya, situs warisan dunia yang juga dikenal sebagai Koyasan, salah satu situs Buddha paling suci di Jepang.

Biksu tersebut mulai bekerja di sana pada 2008 dan menjadi depresi sekitar Desember 2015.

"Jika Anda bekerja sebagai biksu, terlalu sering Anda bekerja tanpa manajemen jam kerja. Kamu menyediakan tenaga kerja, tapi kamu diberi tahu itu bagian dari pelatihan agama. Jika itu latihan, kamu harus bertahan, bahkan jika kamu menghadapi kesulitan," ungkap Shirakura.

Melalui kasus itu, penggugat dan pengacara akan berpendapat bahwa gagasan semacam itu sudah ketinggalan zaman.

Shirakura menolak menyebutkan kliennya atau kuil yang digugat. Dia menyebut lelaki itu ingin mempertahankan identitasnya sehingga akhirnya bisa kembali bekerja atau mencari posisi di tempat lain di komunitas kecil biksu.

"Pada 2015, ketika daerah Koyasan merayakan ulang tahun ke-1.200, dia dipaksa bekerja hingga 64 hari berturut-turut untuk menangani lonjakan wisatawan ke lokasi itu," kata Shirakura.

Biksu tersebut telah memenangi dukungan dari biro tenaga kerja setempat, yang mengakui bahwa waktu kerja yang panjang tanpa libur memenuhi definisi kerja berlebihan.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya