Kawasan ASEAN+3 Diprediksi Tumbuh 5,4%

RO/Micom
03/5/2018 12:40
Kawasan ASEAN+3 Diprediksi Tumbuh 5,4%
(Ist)

DISOKONG kondisi perekonomian global yang kondusif, ekonomi negara-negara di kawasan ASEAN+3 tumbuh cukup tinggi didukung oleh kuatnya permintaan domestik dan meningkatnya ekspor, dengan tingkat inflasi yang stabil, sebagaimana dituangkan dalam laporan yang baru saja diterbitkan oleh ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO).

Sebagai salah satu publikasi tahunan AMRO, Prospek Ekonomi Regional (ASEAN+3 Regional Outlook–AREO) menyajikan asesmen terhadap prospek ekonomi dan stabilitas keuangan di kawasan ASEAN+3, yang mencakup sepuluh negara anggota ASEAN, Tiongkok (termasuk Hong Kong), Jepang dan Korea. Dalam edisi tahun ini, AREO juga mencakup studi tematik mengenai “Resiliensi dan Pertumbuhan di tengah Dinamika Global”.

“Dengan membaiknya permintaan eksternal, pertumbuhan kawasan diprakirakan stabil pada level 5.4% di 2018 dan 5.2% di 2019”, menurut Chief Economist AMRO, Dr. Hoe Ee Khor. “Namun demikian, dengan adanya risiko pengetatan kondisi keuangan global dan proteksionisme perdagangan, akan lebih pruden bagi pengambil kebijakan untuk memprioritaskan stabilitas keuangan daripada mengejar pertumbuhan.”

Walaupun kondisi permintaan domestik dan permintaan ekspor global masih kuat, kawasan ASEAN+3 dihadapkan pada dua risiko utama jangka pendek, berupa pengetatan kondisi keuangan global yang lebih cepat dari perkiraan akibat kenaikan Fed Fund Rate (FFR) dan eskalasi tekanan perdagang global.

Jika kedua risiko ini terjadi, dampak negatif terhadap kawasan dapat berupa arus keluar modal asing, peningkatan biaya utang, dan menurunnya volume perdagangan dan investasi.

Membaiknya permintaan global memungkinkan negara-negara di kawasan untuk meningkatkan cadangan guna mengantisipasi potensi gejolak eksternal. Nilai tukar negara-negara kawasan regional saat ini cenderung lebih fleksibel sehingga dapat berperan lebih besar dalam meredam gejolak eksternal.

Untuk meningkatkan resiliensi, pengambil kebijakan perlu terus membangun ruang kebijakan yang lebih luas, khususnya kebijakan moneter, untuk mengantisipasi potensi pengetatan kondisi keuangan global. Kebijakan fiskal diharapkan dapat memainkan peran
yang lebih besar dalam mendukung pertumbuhan, sementara kebijakan makroprudensial dapat membantu menjaga stabilitas sistem keuangan.

AREO 2018 juga memaparkan studi tematik mengenai resiliensi dan pertumbuhan kawasan di tengah perubahan fundamental dan global, terutama terkait teknologi, perdagangan dan jaringan produksi global. Perubahan tersebut menciptakan tantangan tersendiri bagi strategi “manufaktur untuk ekspor” yang selama ini telah berperan sebagai mesin pertumbuhan dan pembangunan di kawasan.

Teknologi telah terbukti menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi penyerapan teknologi menyebabkan sektor manufaktur menjadi semakin terpusat pada modal dan tenaga kerja terampil, dengan penyerapan tenaga kerja lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Perubahan struktural pada rantai nilai (tambah) global (global value chain–GVC) memungkinkan masing-masing negara di kawasan untuk memproduksi sendiri bahan baku antara ketimbang mengimpor. Di sisi lain teknologi telah mendorong munculnya sektor jasa sebagai mesin baru pendorong pertumbuhan dan pencipta lapangan kerja.

Untuk merespons berbagai tantangan tersebut, kawasan ASEAN+3 perlu memperkuat konektivitas dan integrasi guna memenuhi peningkatan permintaan intra kawasan dan meningkatkan daya tahan dalam menghadapi gejolak eksternal, seperti proteksionisme perdagangan. Bagi masing-masing negara di kawasan, kebijakan yang dapat ditempuh adalah membangun daya tahan melalui penguatan berbagai mesin pertumbuhan yang dimiliki, termasuk sektor jasa yang saat ini sedang berkembang. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya