Inggris, AS Pelajari Gletser Antartika Terbesar

Denny Parsaulian Sinaga
01/5/2018 16:20
Inggris, AS Pelajari Gletser Antartika Terbesar
(Ist)

INGGRIS dan Amerika Serikat pada Senin (30/4) meluncurkan program penelitian yang disebut sebagai pemeriksaan paling rinci dan ekstensif dari gletser Antartika besar yang pernah dilakukan. Studi ini untuk mengukur seberapa cepat gletser itu mencair.

Tim dari Dewan Penelitian Lingkungan Alam Inggris (NERC) dan Yayasan Ilmu Pengetahuan Nasional AS (NSF) akan mengunjungi Thwaites Glacier di Antartika Barat untuk menilai apakah gua itu bisa bertahab dalam beberapa dekade atau abad berikutnya.

"Runtuhnya Gletser Thwaites di Antarktika Barat dapat secara signifikan memengaruhi permukaan laut global," kata NERC dalam sebuah pernyataan.

Ketua Eksekutif NERC Duncan Wingham menambahkan bahwa nasib gletser adalah salah satu hal yang tidak diketahui dalam ilmu Antartika.

"Kami saat ini kurang mengetahui tentang kemungkinan, waktu, dan besarnya runtuhnya gletser Antartika Barat seperti Thwaite bagi negara-negara agar dapat merencanakan langkah dengan tepat," katanya.

Kolaborasi senilai 22,8 juta euro atau US$27,5 juta ini akan melibatkan 100 ilmuwan dan instrumen serta teknik terbaru ke salah satu wilayah yang paling tidak ramah di dunia.

Ini akan mencakup pengeboran untuk membuat lubang akses 1.500 meter (4.900 kaki) ke dalam es dengan jet air panas dan kapal selam otonom.

"Satelit menunjukkan wilayah Thwaite berubah dengan cepat, tetapi untuk menjawab pertanyaan kunci tentang seberapa banyak, dan seberapa cepat permukaan laut akan berubah di masa depan, dibutuhkan usaha para ilmuwan di lapangan dengan peralatan canggih," kata William Easterling dari NSF.

Usaha lima tahun, delapan proyek --disebut International Thwaites Glacier Collaboration (ITGC)-- adalah proyek gabungan terbesar yang dilakukan oleh kedua negara di Antartika selama lebih dari 70 tahun.

"Para peneliti dari Korea Selatan, Jerman, Swedia, Selandia Baru, dan Finlandia juga akan berkontribusi pada upaya internasional untuk memberikan jawaban atas beberapa pertanyaan besar bagi para ilmuwan yang mencoba memprediksi kenaikan permukaan laut global," tambah NERC.

Menteri sains Inggris Sam Gyimah mengatakan meningkatnya permukaan laut adalah masalah global yang penting yang tidak dapat diatasi oleh satu negara saja.

Menurut NASA, Antartika kehilangan 125 gigaton es setiap tahun antara 2002 dan 2016.

Benua putih memegang 62% cadangan air tawar global dan pencairannya dapat berkontribusi pada desalinasi laut dunia. Ini bisa dilihat sebagai kejadian fatal bagi banyak spesies laut. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya