Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEPULUH wartawan termasuk fotografer AFP berada di antara puluhan orang yang tewas di Afghanistan dalam sebuah serangan bom bunuh diri di Kabul.
Serangan ini mnyoroti bahaya yang dihadapi wartawan dalam negara yang dirobek oleh perang itu. Kekerasan meningkat sebagai akibat dari kebangkitan Taliban. Sementara itu, kelompok Islamic State terus membuat terobosan.
Dua bom bunuh diri meledak di Kabul menewaskan 25 orang, termasuk Shah Marai bersama dengan setidaknya delapan wartawan, dan 49 orang terluka.
Wartawan tanpa Batas (Reporters Without Border) menyebut serangan ini paling mematikan terhadap media sejak jatuhnya Taliban.
IS mengklaim serangan yang langsung dikutuk oleh PBB dan Uni Eropa.
Juru bicara polisi Kabul Hashmat Stanikzai mengatakan, ledakan kedua twrjadi semenit setelah yang pertama dan manargetkan wartawan di tempat kejadian.
"Pengebom menyamar sebagai wartawan dan meledakkan dirinya di antara orang banyak," katanya.
BBC mengonfirmasi bahwa salah satu reporternya, Ahmad Shah, 29, termasuk jadi korban tewas pada serangan terpisah di tengah Provinsi Khost, dekat perbatasan Pakistan itu.
Dia ditembak oleh orang bersenjata tak dikenal. Kata seorang penyiar mengutip polisi setempat.
Pada serangan ketiga, 11 anak-anak tewas dan 16 orang terluka, termasuk tentara Rumania dan Afghanistan. Serangan ketiga ini merupakan bom bunuh diri oleh seseorang yang meledakkan mobilnya di dekat konvoi NATO konvoi di Provinsi Selatan dari Kandahar. Anak-anak yang tewas berusia 6-11 tahun. Badan PBB untuk kesejahteraan anak-anak dunia, Unicef, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya mengutuk serangan besar ini.
Tidak ada yang segera mengklaim bertanggung jawab untuk serangan ini.
Sekjen PBB Antonio Guterres geram terhadap serangan ini.
"Serangan menargetkan jurnalis menggambarkan risiko jurnalis profesional dalam menjalankan tugas mereka," kata Guterres.
Menteri Pertahanan AS Jim Mattis mengatakan militan menargetkan wartawan di Afghanistan karena mereka mulai lemah dan ingin pemberitaan lebih untuk merusak negara yang sedang dalam proses pemilihan yang diharapkan berlangsung Oktober mendatang.
"Ini adalah normal oleh orang-orang yang tidak bisa menang di kotak suara, sehingga mereka berpaling memakai bom," kata mattis.
Wartawan Radio Free Eropa dan penyiar TV Afghanistan, penyiar Tolo dan 1tv termasuk di antara mereka yang tewas di antara wartawan yang tewas di Kabul.
"Tragedi ini mengingatkan kita dari bahaya bahwa tim kami terus-menerus wajah di tanah dan peran penting wartawan bermain untuk demokrasi," kata Fabrice Fries CEO AFP.
Marai bergabung dengan AFP sebagai driver pada 1996, saat Taliban merebut kekuasaan. Dan mulai mengambil gambar, termasum meliput invasi AS pada 2001.
Pada 2002, ia menjadi stringer penuh, lalu naik menjadi Biro Kepala fotografer. Pria 41 tahun ini dikenal sebagai pribadi yang fleksibil dan mudah bersahabat.
Direktur AFP Michele Leridon menggambarkan Marai sebagai rwkan berharga. "Kami hanya dapat menghormati kekuatan luar biasa, keberanian, dan kemurahan hati fotografer yang liputannya sering traumatis, mengerikan sebagai wujud profesionalisme," kata Leridon kata. "Kami juga mengirim ucapan belasungkawa untuk keluarga wartawan lain yang terbunuh."
Wartawan tanpa batas mendapati bahwa sejak 2016, tercatat 34 wartawan tewas di Afghanistan. Indeks kebebasab pers nya menempati urutan di 118 dari 180.
Pada 2016, tujuh karyawan saluran TV Tolo tewas dalam serangan bom bunuh diri oleh Taliban.
Pada November tahun lalu, Shamshad TV diserbu oleh orang-orang bersenjata yang menewaskan satu orang.
Sejam kemudian stsiun tv itu kembali mengudara. Seorang penyiar dengan tangan diperban menyiarkan serangan itu direkturnya bersumpah, mereka tdk bisa membungkam kita. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved