Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJAK transplantasi organ manusia sukses dilakukan pada 1954 silam, ilmu kedokteran semakin berkembang. Pada transplantasi pertama, tim dokter berhasil mencangkokkan ginjal manusia.
Kini dengan ilmu kedokteran mutakhir, seorang tentara yang terluka di medan perang dan mengakibatkan organ tubuhnya rusak dapat memiliki penis dan skrotum pengganti. Hal itu terjadi pada sebuah operasi inovatif bulan lalu.
Di lain hal, seorang warga Prancis baru-baru ini menjadi orang pertama yang menerima transplantasi wajah kedua setelah yang pertama gagal. Sejarah kesuksesan lainnya ialah menumbuhkan kembali kulit pada pasien yang 95% tidak memiliki kulit.
Operasi transplantasi kulit itu sukses berkat upaya pencangkokan dari saudara kembarnya. Kini transplantasi tidak lagi terbatas pada organ vital seperti jantung, hati, dan paru-paru.
Pasien kini bisa mendapatkan tangan atau bahkan rahim yang baru. Namun, beberapa organ masih tetap terlarang untuk ditransplantasi.
Menurut para ahli, di daftar teratas pelarangan terhadap transplantansi ialah pada transplantansi otak karena alasan teknis dan etika. "Organ yang paling menantang untuk ditransplantasi ialah yang berkaitan dengan sistem saraf. Mengapa? Karena kami belum memiliki teknik yang efektif untuk pertumbuhan dan regenerasi saraf," kata ahli bedah transplantasi, David Nasralla dari Universitas Oxford.
Di tubuh manusia, saraf bertugas membawa pesan dalam bentuk elektrokimia. Pesan itu dibawa dari otak lewat sumsum tulang belakang, kemudian diteruskan ke otot dan organ lainnya.
Dua ahli bedah dari Italia dan Tiongkok baru-baru ini membuat ilmu kedokteran terharu setelah mengumumkan rencana untuk memindahkan kepala seseorang dan menempelkannya ke tubuh donor yang kepalanya dipenggal. Namun, para pengamat pesimistis.
Mereka berpendapat kemungkinan besar pasien akan meninggal dunia. Pasalnya, mereka meragukan cara untuk menghubungkan serabut saraf dari dua urat saraf tulang belakang.
Dipertanyakan
Artikel terbaru di jurnal Bedah Neurologi Internasional ikut mempersoalkan hal itu. "Kenangan akan peran yang dimainkan oleh tubuh sebelumnya dalam penciptaan identitas subjek akan menghadapi kemungkinan konflik dengan tubuh donor baru yang diberikan," tulis ahli bioetika, Anto Cartolovni dan Antonio Spagnolo.
Mereka melanjutkan, hal serupa juga terlihat pada kasus-kasus pencangkokan tangan dan wajah. "Kebingungan terhadap kondisi psikologis seseorang dapat menyebabkan masalah psikologis yang serius, yaitu kegilaan dan akhirnya kematian," lanjut mereka.
Tahun lalu sebuah makalah di Journal of Medical Ethics mendesak agar dipikirkan kembali rasio risiko dan manfaat dari transplantasi organ yang tidak menyelamatkan jiwa.
"Penerima transplantasi berisiko besar: berbahaya dan imunosupresif," tulis Arthur Caplan dan Duncan Purves.
Menurutnya, terdapat daftar panjang terhadap timbulnya efek samping bila hal itu dilakukan. Efek samping yang dimaksud ialah kanker.
"Pergeseran dari menyelamatkan hidup manusia untuk membuat mereka lebih baik harus membutuhkan perubahan dalam pemikiran etis yang telah lama membentuk fondasi transplantasi organ," cetusnya.
(Afp/I-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved