Bandara Asia Padukan Seni dan Teknologi

Denny parsaulian sinaga
23/4/2018 02:30
Bandara Asia Padukan Seni dan Teknologi
(AFP PHOTO / JUNG Yeon-Je)

INI sebuah fakta baru bagi para pelancong pengguna transportasi udara. Jika dulu bandara-bandara di Asia bisa membuat perjalanan penuh stres dan frustrasi, kini hal itu telah sirna. Terima kasih pada teknologi dan ruang ultramodern yang telah menjadikan bandara di Asia sebagai sa­lah satu tujuan khusus para pelancong. Karena itu, tidak mengherankan kalau banyak bandara di Asia mendominasi 2018 Skytrax World Airport Awards.

Apa saja yang membedakan ban­dara-bandara di Asia dengan bandara lainnya di dunia? Jurnalis penerbangan, Harriet Baskas, yang juga pembuat laman Stuckattheairport.com mencatat sejumlah fasilitas bonus mampu membuat orang-orang yang bepergian rela menunggu di bandara.

“Bandara di Asia, khususnya Cha­ngi di Singapura dan Incheon di Korea Selatan, telah menyempurnakan seni dalam menciptakan bandara sebagai tujuan dengan menggabungkan budaya, ruang hijau, ruang istirahat, dan tentu saja banyak tempat untuk belanja,” kata Baskas.

Di Bandara Incheon yang menyandang gelar sebagai bandara terbaik kedua tahun ini, penggunaan teknologi juga dominan. Saat ajang Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang 2018 pada Februari, para penumpang pesawat menikmati Terminal 2 yang baru dibuka sepekan sebelumnya.

Di Terminal 2 bandara itu, dengan menambah hal-hal yang dibutuhkan ke area gerbang internasional utama, pengembang merancang bangunan yang dipenuhi teknologi yang menjadi kebutuhan penumpang. Hal inti terminal itu ialah Great Hall yang mencakup empat lantai. Hall itu didekorasi secara detail dengan granit dan kayu karya seniman lokal.

Namun, kesenangan baru dimulai ketika para penumpang menyadari sepasukan robot membantu mereka di bandara. Dengan bantuan para robot, penumpang tidak perlu lagi mencari meja informasi atau peta terminal yang menyusahkan.
Robot-robot bersahabat itu akan memeriksa boarding pass para penumpang dan mengantarkan mereka ke gerbang tujuan.

Tidak hanya itu, robot-robot tersebut mampu menguasai bahasa Korea, Inggris, Mandarin, dan Jepang. Saat sedang tidak membantu penumpang, robot-robot itu membantu dengan cara berkeliaran melakukan panggilan terakhir untuk penumpang.  Selain membantu penumpang, robot-robot tersebut juga bertugas memastikan terminal tetap bersih. Mereka bahkan mengingat tempat yang kotor dan sampah tercecer. “Saya juga terkesan dengan musik live-nya,” kata Baskas.

Bandara terbaik
Jika ada yang ingin membangun bandara yang memberikan pengalaman unik kelas dunia pagi penumpang, Bandara Changi di Singapura telah menjadi rujukan. Bulan lalu, Changi terpilih sebagai bandara terbaik di dunia untuk keenam kalinya oleh Skytrax.
Menurut CEO Changi, Lee Seow Hiang, penghargaan itu telah me­macu mereka untuk terus memberikan pengalaman terbaik bagi siapa pun yang bepergian lewat Changi.

Apa yang membuat Changi berbe­da dari bandara sibuk lainnya? Hal yang membedakan ialah jumlah fa­silitas hiburan yang tersedia. Ke­empat terminal di bandara itu dipenuhi retail, restoran, dan pilihan hiburan.
Bahkan, di Terminal 3 terdapat seluncurun bertingkat, taman kupu-kupu, dan beberapa taman bertema lainnya. Seluncuran tertinggi di bandara ini tentu saja sangat disukai anak-anak. Sambil menunggu penerbangan, penumpang pun bisa mengunjungi bioskop. (CNN/I-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya