Peningkatan Utang Mencemaskan

(AFP/Xinhua/Ire/I-2)
13/4/2018 08:15
Peningkatan Utang Mencemaskan
(AFP PHOTO / WANG ZHAO)

KETUA IMF Christine Lagarde memperingatkan Tiongkok mengenai peningkatan utang bermasalah yang membebani negara lain melalui proyek infrastruktur perdagangan global yang ambisius, Belt and Road, pada kemarin.

Di depan para pejabat Tiongkok dalam sebuah forum di Beijing, Lagarde menyebutkan Belt and Road atau proyek jalan kereta api dan konstruksi senilai US$1 triliun yang diteken Presiden Tiongkok, Xi Jinping, mencakup belasan negara dari Asia, Afrika, dan Eropa.

Namun, proyek raksasa itu sedang dibangun perusahaan-perusahaan milik Tiongkok dan dibiayai dengan pinjaman dari Tiongkok sehingga membuat negara-negara tersebut terlilit utang miliaran dolar ke Beijing.

"Usaha-usaha ini juga dapat menyebabkan peningkatan utang bermasalah, berpotensi membatasi belanja lainnya karena meningkatnya layanan utang, dan menciptakan keseimbangan tantangan pembayaran. Di negara-negara ketika utang publik sudah tinggi, manajemen yang hati-hati dalam hal pembiayaan sangat penting," kata Lagarde.

Sri Lanka merupakan salah satu negara yang masuk skema utang itu dan dibiarkan dengan sedikit pilihan, termasuk menyerahkan aset penting ke Beijing sebagai cara untuk merestrukturisasi pinjaman. Sri Lanka menyerahkan sewa jangka panjang di Pelabuhan Hambantota yang strategis dan ramai untuk membayar utang.

Lagarde menganjurkan transparansi dan kerja sama yang lebih besar untuk mengajak semua pemangku kepentingan demi menghindari masalah seperti itu.

Pidato tersebut mungkin membuat Tiongkok gusar, apalagi telah banyak pujian atas proyek itu, dan mereka enggan mengakui setiap risiko atau jebakan dalam inisiatif yang sering digambarkan sebagai kebangkitan kembali rute perdagangan Jalur Sutra kuno.

Kepala Bank Sentral Tiongkok, Yi Gang, mengatakan bank-bank Tiongkok telah mencapai keberhasilan besar dengan menyediakan pembiayaan berbiaya rendah untuk negara-negara Belt dan Road. Yi mengatakan bank tidak bergantung pada subsidi pemerintah dan tidak melakukan pinjaman komersial. "Belt and Road bukanlah Marshall Plan setelah Perang Dunia II atau intrik Tiongkok. Ini ialah, jika ada, rencana pencerahan," kata Xi.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya