Ancaman Amerika Serikat akan Gempur Suriah

Irene Harty
13/4/2018 07:45
 Ancaman Amerika Serikat akan Gempur Suriah
(AFP/US NAVY OFFICE OF INFORMATION)

DUA kapal perusak Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) yang dipersenjatai dengan rudal jelajah Tomahawk berada dalam posisi dan siap untuk beraksi bersama dengan jet dan kapal selam jika Presiden AS Donald Trump mewujudkan ancamannya pada target di Suriah.

Trump mengumumkan itu di Twitter saat Pentagon lengah pada Rabu (11/4) bahwa ada 'rudal bagus, baru, dan pintar' segera ditembakkan ke arah Suriah.

Menteri Pertahanan AS James Mattis mengatakan, militer AS sedang bersiap-siap jika Trump memberikan perintah untuk menyerang. "Kami siap memberikan opsi militer jika sesuai sebagaimana yang ditentukan Presiden," katanya.

Selain memiliki dua kapal perusak, ada kemungkinan AS menggunakan kapal selam tak dikenal di lepas pantai Suriah yang siap menembakkan rudal jelajah Tomahawk. AS juga memiliki jet tempur F-22 siluman yang ditempatkan di Qatar.

"Demi memberi efek jera, AS tanpa ragu mengambil risiko dalam serangan ini dan kemungkinan besar akan memilih serangan jarak jauh dari kapal selam atau pesawat," menurut Adam Mount, anggota Senior dan Direktur Pertahanan Proyek Postur di Federasi Ilmuwan Amerika dan mantan rekan senior di Center for American Progress.

"Terbaru, rudal JASSM dapat dikirimkan oleh B-1B dan B-52 (dan sekarang kemungkinan F-15E dan F-16). JASSM melakukan pengenalan target dan panduan terminal dengan sensor inframerah, sesuatu yang 'baru' dan 'pintar," tambahnya.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan Rusia berharap semua pihak yang terlibat di Suriah akan menghindari langkah apa pun yang dapat secara signifikan mengguncang situasi yang rapuh.

Akhirnya menyerah
Pemberontak di Ghouta Timur Suriah, Jaish al-Islam, akhirnya menyerahkan senjata dan pemimpin mereka, Issam Buwaydani berkonvoi dari Ghouta dengan ribuan pejuang lain serta keluarga mereka meninggalkan daerah kantong itu, menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) pada Kamis (12/4).

"Para pejuang Jaish al-Islam menyerahkan senjata berat mereka kepada polisi militer Rusia di Kota Douma pada Rabu (11/4)," kata SOHR.

Pasukan pemerintah Suriah belum mengambil alih Douma tapi para pemberontak tidak lagi muncul dalam posisi untuk melawan.

Jaish al-Islam yang menguasai kota utama Eastern Ghouta Timur selama bertahun-tahun, telah menolak kesepakatan yang ditengahi Rusia seperti yang dilakukan oleh faksi-faksi lain yang berseteru ke Suriah Utara.

Rusia menjadi pemain kunci dengan melakukan serangan udara, yang menyebabkan sedikitnya 1.600 warga sipil tewas. "Hari ini peristiwa penting dalam sejarah Suriah terjadi," ungkap Mayor Jenderal Yuri Yevtushenko, Kepala Pusat Militer Rusia untuk rekonsiliasi di Suriah.

"Kemenangan di Ghouta ialah titik kritis. Itu menjadi pesan ke seluruh dunia bahwa tentara Suriah dan sekutunya dapat membebaskan setiap inci wilayah Suriah," Bouthaina Shaaban, Penasihat Presiden Bashar al-Assad.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mempertimbangkan pilihannya dan Perdana Menteri Inggris Theresa May menyerukan pertemuan kabinet darurat pada Kamis saat tentara Suriah bersiap untuk serangan dari Barat.

(AFP/Ire/I-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya