Kim Akui bakal Bertemu AS

Denny Parsaulian Sinaga
11/4/2018 08:40
Kim Akui bakal Bertemu AS
(AFP)

PEMIMPIN Korea Utara Kim Jong-un untuk pertama kali mengakui prospek pertemuan dengan seterunya, Amerika Serikat. Pengakuan itu disampaikan Kim menjelang rencana pertemuannya dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Trump pada bulan lalu telah menyatakan kesediaannya untuk bertemu dengan Korut. Namun, dia tidak menyebut tanggal atau tempat tertentu.

Pengakuan Kim tersebut dilaporkan kantor berita Korut, KCNA, kemarin. Menurut laporan itu, Kim bertemu dengan para pejabat partai pada Senin (9/4) untuk membahas prospek dialog DPRK-AS, kata kantor berita itu dengan menyebut anonim untuk Korut.

"Dia menyampaikan laporan tentang perkembangan situasi baru-baru ini di Semenanjung Korea, termasuk pertemuan terpisah dengan Korea Selatan yang akan diadakan akhir bulan ini," kata KCNA.

Dalam perkembangan pendekatan di Semenanjung Korea, Kim dijadwalkan bertemu dengan presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, untuk pertemuan langka antar-Korea pada 27 April.

Trump juga setuju bertemu dengan Kim untuk membahas denuklirisasi secepatnya pada bulan depan. KTT ini akan menjadi yang pertama antara presiden AS dan pemimpin Korut.

Namun, Korut terus membisu selama berminggu-minggu setelah undangan pemimpinnya untuk bertemu disampaikan kepada Trump oleh pejabat Korsel yang sebelumnya berkunjung ke Pyongyang. Hal itu memicu kekhawatiran di Washington bahwa Seoul melebih-lebihkan keinginan Korut untuk menegosiasikan senjata nuklir.

Pernyataan Kim kemarin telah memecah kebisuan itu, sekalipun dia tidak secara khusus menyebut bakal bertemu dengan Trump.

Sebelum pernyataan Kim itu, media juga melaporkan para pejabat Korut secara pribadi menyampaikan kepada AS bahwa Kim siap membahas denuklirisasi. "Mei atau awal Juni," kata Trump, Senin (9/4), dengan merujuk waktu pertemuan.

"Saya pikir akan ada rasa hormat yang besar oleh kedua pihak dan mudah-mudahan akan ada kesepakatan tentang denuklirisasi," katanya.

Keinginan Kim untuk bertemu dengan Presiden AS dilihat sebagai suatu upaya untuk perubahan menakjubkan.

"Kim Jong-un telah beralih dari sistem darurat yang didominasi militer ke sistem dominan partai yang normal," kata Profesor Yang Moo-jin di University of North Korean Studies. "Korea Utara berusaha memperbaiki hubungan dengan Selatan dan Amerika Serikat untuk mengakhiri statusnya sebagai negara paria dan membangun diri sebagai negara normal."

Aktivitas diplomatik di Pyongyang menandai perubahan setelah setahun ketegangan tinggi menyebabkan Korut melakukan uji coba nuklir dan rudal.


Kian Terbuka

Perubahan sikap Korut juga disampaikan pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FCPI) Dino Patti Djalal.

Dia menyatakan Korut saat ini menjadi negara yang kian terbuka ketimbang yang ia saksikan 12 tahun lalu. Hal itu dia sampaikan sepulang kunjungannya dari Pyongyang pada 3-7 April.

"Masyarakatnya lebih bebas sekarang. Mungkin bebas tidak dalam artian kita di negara demokrasi. Namun lebih bebas ketimbang dulu saya berkunjung pada 2006," tutur Dino dalam diskusi yang digelar FPCI di Jakarta, kemarin.

"Dulu warga di sana gugup kalau bertemu dan bicara dengan orang luar," imbuhnya.

Mantan Dubes RI untuk Amerika Serikat itu mengunjungi Korut bersama tujuh pakar kebijakan luar negeri. Mereka tergabung dalam delegasi nonpemerintah.

"Banyak gedung megah di Pyongyang. Pada 2006 itu masih sangat sedikit." (AFP/Dhk/I-1)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya