Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BUNUH diri, kudeta, pemakzulan, skandal, atau penjara: terpilih menjadi presiden di Brasil dan Anda hampir dijamin berakhir dengan tidak bahagia.
Ketika Luiz Inacio Lula da Silva dikurung di markas polisi federal di Curitiba untuk memulai hukuman 12 tahun penjara karena korupsi, itu bagaikan sebuah ledakan bom.
Seorang mantan presiden dua periode yang meninggalkan jabatannya pada 2011 itu merupakan salah satu orang paling populer di planet ini. Lula ialah pelopor dalam pemilihan presiden Oktober nanti.
Namun, dilihat dari sisi lain, 'kematian politik' brutal Lula seperti sesuatu yang biasa di 'Negeri Samba' itu.
Saat menjabat sebagai Presiden Brasil, Lula tinggal di istana hasil desain Oscar Niemeyer yang luar biasa di Brasilia. Dia memerintah sebuah negara yang kaya sumber daya alam dengan hutan hujan terbesar di dunia, memiliki 209 juta penduduk dan mungkin tim sepak bola terbaik juga di dunia.
Lalu entah bagaimana, segalanya cenderung berbalik keliru.
Bagi Lula, setidaknya dia menyelesaikan dua periode pemerintahannya. Penerusnya, Dilma Rousseff, dicopot dari jabatannya dalam proses pemakzulan akibat 'memasak' anggaran pada 2016, yaitu di pertengahan masa jabatan keduanya.
Penerusnya, Michel Temer, masih menjabat, akan tetapi masa depannya suram. Tahun lalu dia dua kali dituduh korupsi. Dia menjadi presiden Brasil pertama yang menghadapi tuntutan pidana saat masih menjabat.
Mundur ke 1992, Brasil memiliki Presiden Fernando Collor de Mello. Dia diberhentikan setelah tuduhan korupsi dan mengundurkan diri dua tahun di masa jabatan pertamanya.
Salah satu dari lima mantan presiden yang masih hidup, Jose Sarney (1985-1990) juga menghadapi penyelidikan korupsi.
Yang paling tragis dari semua pemimpin Brasil ialah Getulio Vargas. Sebagai seorang populis, ia memerintah dalam dua periode pada1930-an 1950-an. Dia melakukan banyak hal untuk mengubah negara menjadi sebuah kelompok industri.
Kemudian pada 24 Agustus 1954, dia menyarangkan peluru revolver di jantungnya di istana kepresidenan. Tak lupa dia meninggalkan catatan bunuh diri bagi orang-orang Brasil. "Saya memberi Anda hidup saya, sekarang saya memberi Anda kematian saya."
"Masuk ke politik ialah bisnis yang berisiko," kata Angela Alonso, kolumnis di surat kabar Folha de S Paulo, (Minggu 98/4). "Di Brasil ada risiko kehilangan pemilihan, kebebasan, dan hidup Anda," lanjutnya.
Mauricio Santoro, pengamat di departemen hubungan internasional dari Rio State University mengatakan, pengalaman hidup yang suram di 'klub presiden' mencerminkan masalah mendalam dengan demokrasi.
Kabar baiknya ialah, upaya antikorupsi yang membuat begitu banyak pemimpin Brasil kesulitan secara bersamaan mencerminkan kematangan negara yang sedang berkembang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved