Pangkalan Udara Diserang Suriah Tuding Israel

Denny Parsaulian Sinaga
10/4/2018 08:10
Pangkalan Udara Diserang Suriah Tuding Israel
(AFP)

SURIAH dan sekutu, Rusia, menuding Israel sebagai pelaku serangan bom mematikan di pangkalan udara militer mereka, kemarin. Serangan itu terjadi di tengah sorotan tajam masyarakat internasional atas dugaan serangan kimia di kota pemberontak, Douma, yang menewaskan puluhan orang.

Kantor berita Suriah SANA melaporkan sebelum matahari terbit, beberapa rudal menghantam T-4 yang dikenal sebagai pangkalan militer Tiyas, di Provinsi Homs.

Menurut SANA, sistem pertahanan udara langsung diaktifkan dan dilaporkan serangan ini diduga dilakukan AS. Namun, mereka lalu menyatakan itu tidak ada hubungannya dengan AS.

Kantor berita itu mengatakan pesawat pengebom Israel F-1 menembakkan sejumlah misil ke pangkalan udara itu dari wilayah Libanon.

Militer Rusia mengatakan sepasang F-15 telah menembakkan delapan misil ke pangkalan itu. Lima misil dapat dihancurkan sistem pertahanan udara, tapi tiga lainnya mengenai bagian barat fasilitas itu. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyebut serangan itu sebagai perkembangan yang sangat berbahaya.

Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (Syrian Observatory for Human Rights/SOHR) yang memonitor situasi di negara konflik itu, 14 orang tewas, termasuk tentara sekutu rezim berkuasa, Iran.

"Suriah dibantu sekutu dari Rusia, dan Iran serta pejuang Hezbollah asal Lebanon," kata Kepala SOHR Rami Abdel Rahman.

Sebelumnya, Amerika Serikat dan Prancis telah menyangkal melakukan serangan ke pangkalan militer Suriah itu sebagai respons atas dugaan serangan gas mematikan.

"Saat ini Departemen Pertahanan tidak sedang menjalankan serangan udara di Suriah," kata juru bicara Pentagon, di Washington. "Bagaimanapun kami mengawasi secara ketat situasi dan mendukung usaha diplomatik untuk menangkap pengguna senjata kimia di Suriah."

Dugaan ini muncul setelah AS dan Prancis mengingatkan akan ada respons besar atas serangan kimia mengerikan di dekat Damaskus. Mereka mengeluarkan respons bersama ini atas serangan kimia di kota yang dikuasai pemberontak, Douma, yang menewaskan sedikitnya 48 orang.

Serangan gas kimia itu telah menyita perhatian dunia dan Konsil Keamanan PBB diharapkan segera membahas masalah ini pada Senin (9/4) waktu setempat.

 

Ancaman Trump

Juru bicara pasukan bersenjata Prancis Kolonel Patrik Steiger juga menyangkal Prancis melakukan serangan itu. "Itu bukan kami," katanya.

Juru bicara militer Israel, yang telah menyerang posisi militer Suriah beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir, menolak berkomentar mengenai serangan itu.

Israel telah berulang kali memperingatkan bahwa mereka tidak ingin musuh bebuyutan, Iran, terlibat secara militer di Suriah. Pada Februari lalu, mereka melakukan serangan udara besar di Suriah setelah sebuah pesawat tempur F-16 Israel ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Suriah.

Presiden AS Donald Trump sangat marah atas dugaan serangan kimia tersebut. "Presiden Putin, Rusia, dan Iran bertanggung jawab karena mendukung (Presiden Bashar) Al-Assad. Harga besar harus dibayar," kata Trump memperingatkan pada Minggu (8/4).

Damaskus dan Moskow mengecam tuduhan itu sebagai rekayasa dan memperingatkan mereka agar tidak digunakan sebagai dalih untuk sebuah tindakan militer.

Atas dukungan Moskow, Al-Assad telah menyerang untuk mengusir para pemberontak dari Ghouta Timur, bekas benteng mereka di pinggiran ibukota Suriah. Serangan itu telah menewaskan lebih dari 1.700 warga sipil, menelantarkan puluhan ribu orang, dan meninggalkan gerilyawan Islam terpojok di tempat terakhir mereka di Douma, kota utama di Ghouta. (AFP/I-1)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya