Al-Sisi, Figur Seorang Ayah dan Pemimpin

AFP/Irene Harty/I-1
04/4/2018 09:40
Al-Sisi, Figur Seorang Ayah dan Pemimpin
(AFP/MOHAMED EL-SHAHED)

DENGAN ciri khas kacamata hitam dan kehadirannya yang tidak tersentuh media, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, terpilih kembali pekan ini untuk masa jabatan kedua, sekaligus menghadirkan atmosfer paternalisme yang kuat.

Orang-orang boleh mencintai atau membenci al-Sisi, melihat dia sebagai benteng stabilitas atau sebagai otokrat yang mendominasi, namun dia tetap kekuatan politik terbaik di negeri itu.

Dia pertama kali terpilih sebagai presiden pada 2014, setelah memimpin militer setahun sebelumnya dalam mengusir Muhammad Mursi, pemimpin pertama negara itu yang dipilih secara demokratis di negeri Afrika Utara itu.

Mursi kini mendekam di penjara, setelah dijatuhi beragam hukuman, termasuk hukuman mati. Al-Sisi berhasil membungkam semua bentuk oposan politik selama periode empat tahun pertamanya.

Menjelang pemilihan presiden kali ini, Al-Sisi menyingkirkan semua partai oposisi. Lawan politiknya yang lain disingkirkan, ditahan, atau ditolak komisi pemilihan umum.

Lawannya yang tersisa hanya Moussa Mostafa Moussa yang kurang terkenal. Dia mendaftar hanya untuk menyelamatkan pemilihan presiden sehingga Al-Sisi tidak melawan kotak kosong. Moussa sendiri pada dasarnya merupakan seorang pendukung Al-Sisi.

Al-Sisi menyapu jajak pendapat awal dengan 92% suara, menurut media pemerintah, dan saat ini dia menikmati kemenangannya.

Mantan perwira karier itu lahir pada November 1954 di lingkungan El-Gamaleya, di jantung Kota Kairo. Sebagai seorang anak, Al-Sisi dikenal sebagai sosok yang berusaha untuk mengendalikan orang-orang di sekitarnya.

Dia lulus dari Akademi Militer Mesir pada 1977, kemudian belajar di Inggris dan Amerika Serikat, sebelum menjadi kepala intelijen militer di bawah Presiden Husni Mubarak yang digulingkan pada Januari 2011.

Sebagai pemimpin Mesir, Al-Sisi sering memimpin upacara publik dalam dialek Arab Mesir hingga digambarkan sebagai bapak bangsa.

Dia suka memberi tahu rakyat Mesir bahwa mereka adalah biji matanya, menekankan bahwa dia ada di sana hanya untuk melayani mereka.

Al-Sisi memang dianggap sebagai orang yang tepat untuk memimpin negara yang bertahun-tahun mengalami kekacauan politik, keamanan, dan ekonomi.

Seorang ayah dari empat anak, Al-Sisi bersama istrinya digambarkan oleh orang-orang dekatnya sebagai seorang muslim yang saleh yang tidak melewatkan salat lima waktu.

Kepercayaan diri yang besar dalam imannya juga terlihat dari rekaman audio yang bocor saat Al-Sisi mengatakan bermimpi tentang mendiang presiden Anwar Sadat serta mimpi memegang pedang merah bertuliskan deklarasi iman muslim.

Bahkan saat menjadi menteri pertahanan Mursi, Al-Sisi tetap percaya diri menghadapi tudingan pembunuhan massal pada 14 Agustus 2013 terhadap para demonstran pro-Mursi dan berlanjut dengan pelanggaran HAM internasional untuk membungkam perselisihan pendapat.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya