Tangis Haru Keluarga Menyambut Para ABK yang Disandera di Libia

Irene Harty
02/4/2018 16:45
Tangis Haru Keluarga Menyambut Para ABK yang Disandera di Libia
(ANTARA/GALIH PRADIPTA)

SUDAH enam bulan berlalu sejak Ronny William asal Tanjung Priok, Jakarta, Joko Riadi asal Blitar, Haryanto, Saefuddin, Waskita Ibi Patria, dan Muhammad Abudi asal Tegal, anak buah kapal (ABK) Kapal Salvator VI, disandera oleh kelompok bersenjata antipemerintah Libia di Tripoli.

Enam bulan pula mereka hidup serba kekurangan dalam sebuah kapal kecil tanpa perlengkapan memadai karena semua isi kapal bahkan barang-barang pribadi mereka termasuk pakaian dalam dirampas oleh kelompok bersenjata tersebut.

Namun, saat ini mereka berenam telah kembali ke Tanah Air disambut dengan tangis haru keluarga mereka.

Ditemui di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Muslimah, istri dari ABK Haryanto memberikan sepatah dua patah kata saat acara serah terima suami tercintanya pada Senin (2/4).

"Saya sangat senang sekali. Saya sangat terharu. Selama ini saya menunggu suami saya dan semuanya dibebaskan," tutur Muslimah diselingi tangis haru dan suara parau.

"Saya sangat berterima kasih sekali kepada Ibu menteri (Retno LP Marsudi) dan Bapak Jokowi (Joko Widodo), KBRI di Tunisia, dan seluruh anggota yang bekerja juga saya ucapkan terima kasih sekali," lanjutnya.

Perwakilan keluarga ABK tersebut juga tak lupa mendoakan kesehatan dan kelancaran serta kelimpahan rezeki bagi semua pihak yang disebutkannya tadi.

Apreasi untuk tim gabungan pembebasan sandera tersebut juga datang dari perwakilan ABK WNI yang disandera, Ronny.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada KBRI, Kementerian Luar Negeri RI, dan pemerintah Tripoli. Kami atas nama ABK mengucap syukur dan terima kasih atas kerja samanya karena kami sudah bisa dipertemukan dengankeluarga kami, terima kasih," sahutnya.

Ronny pun bercerita mereka ditangkap saat sedang menjala ikan kurang lebih 27 mil dari garis pantai Benghazi oleh kelompok bersenjata tersebut.

"Kami digiring masuk pelabuhan, begitu masuk semua barang-barang di kapal diambil dan kami digiring ke kontainer. Selama seminggu kami di situ dan baru dipindahkan ke pelabuhan lain. Di situ baru merasa aman," kata Ronny.

Dia juga mengaku mendapat perlakuan baik dari milisi yang masih mau memberi makanan mengingat makanan dari pemilik kapal sering terlambat sehingga mereka harus mencari makan sendiri untuk bertahan hidup.

Ronny juga mengakui kondisi konflik di wilayah tersebut begitu terasa oleh mereka.

"KIta bisa saksikan tiap hari, kayak jaraknya cuma satu atau dua kilometer dari kita. Kadang ada peluru nyasar seperti itulah. Tapi sejak Januari kemarin situasi agak tenang karena kota yang dikuasai Daesh (Negara Islam/IS) sudah bisa dikuasai milisi, sudah agak reda saat itu," tandas Ronny. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya