Warga Tuntut Rousseff Mundur

MI/AFP/AP/Euro News/I-1
17/3/2015 00:00
Warga Tuntut Rousseff Mundur
(AFP)
SEKITAR 1,5 juta demonstran membanjiri jalan-jalan di seluruh penjuru Brasil, Minggu (15/3), dalam aksi protes menuntut pelengseran Presiden Dilma Rousseff dan mengakhiri skandal korupsi di lingkup perusahaan minyak negara, Petrobras. Kasus itu menjadi tantangan terbesar bagi Rousseff yang baru enam bulan memerintah untuk periode kedua setelah menang tipis dalam pemilihan umum pada Oktober tahun lalu. Aksi protes antipemerintah itu digalang kelompok sayap kanan lewat media sosial dan diadakan di 150 kota.

Aksi terbesar berlangsung di Sao Paulo, diikuti satu juta warga yang berkumpul di jalan utama. Adapun di Brasilia, ibu kota Brasil, 45 ribu orang berkumpul. "Jumlah kami ribuan orang, menuntut pemakzulan Dilma Rousseff," ungkap pengunjuk rasa di Sao Paulo, Rubens Nunes, 26. Di pantai yang menjadi ikon pariwisata Brasil, Copacabana, sekitar 15 ribu warga yang mengenakan baju hijau dan kuning mirip dengan kostum tim nasional 'Negeri Samba' menggelar kampanye sembari mengibarkan bendera Brasil. "Turunkan Dilma, enyahkan PT (Partido do Trabalhadores atau Partai Buruh)!" teriak kerumunan warga, menyerukan intervensi militer untuk mengakhiri rezim pemerintahan PT yang telah berkuasa selama 12 tahun di 'Negeri Samba'.

Rita Souza, produser televisi berusia 50 tahun, membawa spanduk bertuliskan 'Intervensi militer sekarang'. Adapun pekerja konstruksi bangunan Alessandro Braga, 37, menyerukan, "Saya mendukung pelengseran Dilma. Skandal korupsi terbesar terjadi selama pemerintahan Rousseff dan dia diam saja!" Aksi unjuk rasa tersebut didukung kalangan oposisi Partai Demokrasi Sosial yang dipimpin Aecio Neves, yakni saingan Rousseff yang kalah dalam pemilihan umum Oktober tahun lalu. Dalam sebuah video yang diunggah di Facebook, Neves mengatakan, "Jalan baru saja dimulai. Kami tidak akan bubar." Berbeda dari protes besar pada 2013 yang berujung pada kekerasan, satu-satunya konflik yang dilaporkan dalam aksi kali ini ialah polisi menggunakan gas air mata dan granat kejut untuk membubarkan sekelompok pengunjuk rasa di Brasilia karena berusaha memasuki kompleks gedung kongres. Di Sao Paulo, polisi menahan 20 pemuda yang membawa petasan.

Membela
Menteri Kehakiman Jose Eduardo Cardozo membela pemerintah dengan menekankan sosok Rousseff sebagai gerilyawan sayap kiri yang membela Brasil pada era rezim militer 1964-1985. Dia mengingat perjuangan sang presiden yang dipenjara selama tiga tahun dan disiksa secara brutal karena perjuangannya tersebut. Adapun Rousseff menyatakan mendukung demonstrasi damai dan Cardozo pun menambahkan aksi unjuk rasa membuktikan bahwa Brasil adalah negara demokratis yang menghormati perbedaan pendapat. Dia juga menegaskan Brasil jauh dari opsi kudeta. Brasil merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat bersama dengan Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan (BRICS). Namun, pertumbuhan telah melemah sejak Rousseff mulai menjabat pada 2011.




Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya