139 Diplomat Rusia telah Diusir

Anastasia Arvirianty
28/3/2018 07:20
139 Diplomat Rusia telah Diusir
(AFP)

AMERIKA Serikat (AS) bergabung dengan Inggris di Eropa dan di seluruh dunia pada Senin (26/3) mengusir sejumlah mata-mata Rusia yang dicurigai, sebagai tanggapan terhadap serangan racun saraf terhadap mata-mata Inggris Sergei Skripal.

Sedikitnya 24 negara termasuk AS dan negara sekutu mereka di Eropa menanggapi kasus serangan terhadap mantan mata-mata dengan menggunakan racun agen saraf di Inggris. Lebih dari 139 diplomat Rusia diusir dari sedikitnya 24 negara. Jumlah itu tercatat sebagai pengusiran diplomat terbesar dalam sejarah Rusia.

Washington memimpin, memerintahkan 60 orang Rusia keluar dari 'Negeri Paman Sam' tersebut, menjadikan hal ini sebagai sebuah pukulan baru bagi hubungan AS-Rusia kurang dari seminggu setelah Presiden Donald Trump memberi selamat kepada Vladimir Putin pada pemilihannya kembali.

Kanada, Ukraina, Albania, Australia, dan sebagian besar negara Uni Eropa menyamai langkah tersebut dengan pengusiran berskala lebih kecil, setelah Inggris mendesak Rusia untuk menanggapi keracunan Sergei Skripal.

 

Diminta tutup konsulat

Para pejabat AS mengatakan 48 perwira intelijen yang terkait dengan misi diplomatik Rusia di AS akan diusir, bersama dengan 12 orang yang terakreditasi ke PBB di New York.

Rusia telah diberi waktu hingga 2 April untuk meninggalkan wilayah AS dan menutup konsulat mereka meskipun kediaman konsul akan dibiarkan terbuka sampai 25 April.

"Begitu tenggat itu berlalu, properti itu tidak akan lagi menikmati status atau perlindungan diplomatik," kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri kepada AFP.

Pada tenggat itu juga, keamanan diplomatik akan melakukan perjalanan untuk mengonfirmasi apakah Rusia memang mengosongkan tempat. "Kami akan mengundang Rusia untuk menemani kami dalam pengecekan itu."

Perwakilan Trump untuk PBB, Nikki Haley, menyambut langkah itu dan mengatakan, "Di sini, di New York, Rusia menggunakan PBB sebagai tempat berlindung yang aman untuk kegiatan berbahaya di dalam perbatasan kita sendiri."

Australia bergabung dengan AS dan Inggris untuk mengusir dua diplomat Rusia pada Selasa (27/3) sebagai tanggapan atas serangan racun terhadap mata-mata Rusia di Inggris.

PM Australia Malcolm Turnbull mengatakan pasangan itu ialah 'perwira intelijen rahasia' dan memiliki waktu tujuh hari untuk pergi.

"Keputusan ini mencerminkan sifat mengejutkan dari serangan itu, penggunaan senjata kimia pertama di Eropa sejak Perang Dunia II, melibatkan substansi yang sangat mematikan di daerah berpenduduk, membahayakan anggota masyarakat lainnya," tambah Turnbull.

Wakil Menlu Rusia Sergei Ryabkov kemarin mengatakan Moskow akan menanggapi secara keras keputusan Amerika Serikat mengusir 60 diplomat Rusia, kata kantor berita RIA. Namun, mereka masih terbuka terhadap kemungkinan perundingan strategis dengan Washington.

Rusia akan membalas pengusiran tersebut kemarin. Rusia membantah tuduhan berada di balik serangan terhadap Sergey Skripal dan putrinya di Salibury, Inggris. Keduanya saat ini berada dalam kondisi kritis di rumah sakit. (AFP/Ire/I-2)  


 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya