Ledakan di Alexandria, Kepala Keamanan Jadi Sasaran

Irene Harty
25/3/2018 10:00
Ledakan di Alexandria, Kepala Keamanan Jadi Sasaran
(AFP )

LEDAKAN di dekat Tolip Hotel, Rushdi, Alexandria, Mesir pada Sabtu (24/3) sore waktu setempat telah menewaskan sedikitnya dua orang.

Serangan terjadi dekat iring-iringan Mayor Jenderal Mostafa al-Nemr, Kepala Keamanan di Alexandria, yang dianggap sebagai percobaan pembunuhan, menurut sumber keamanan Mesir.

Dugaan serangan bom mobil itu juga melukai sedikitnya empat orang.

Kantor Berita MENA mengutip al-Nemr yang mengatakan dua orang, yakni seorang polisi dan seorang pengemudi, tewas dalam ledakan itu.

Kementerian Dalam Negeri Mesir turut menyebut serangan itu adalah upaya pembunuhan terhadap al-Nemr.

Mantan Deputi Menteri Dalam Negeri Rafiq Habib mencurigai para pelaku termasuk kelompok ekstremis, meskipun belum ada yang dikonfirmasi.

"Pemilihan waktu ledakan ini, yang terjadi tepat sebelum pemilihan presiden, mengatakan tujuannya untuk menebarkan ketakutan di kalangan pemilih," kata Habib.

"Saya tidak percaya bahwa itu akan berdampak pada pemilu. Namun saya yakin akan ada jumlah besar yang akan memilih," tambahnya.

Insiden itu mengikuti kunjungan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi ke Sinai pada Jumat (23/3), sebelum pemilihan yang ditetapkan untuk memberinya masa jabatan kedua.

Selama kunjungan ke kantor militer dan polisi di Sinai, Sisi menginstruksikan tentara untuk menggunakan semua kekuatan yang diperlukan untuk membasmi kelompok-kelompok bersenjata di Mesir.

"Kami akan segera datang ke sini untuk merayakan kemenangan atas kaum Khawarij (separatis dari Islam) pada era ini," katanya.

Sebuah operasi besar diluncurkan pada 18 Februari dengan pasukan darat, udara dan angkatan laut Mesir, bersama dengan penjaga perbatasan dan polisi.

Tentara memerintahkan rumah sakit ditempatkan dalam siaga tinggi, menyiapkan tempat tidur tambahan dan personel, untuk menangani keadaan darurat dan evakuasi medis.

Operasi keamanan terhadap kelompok pemberontak di Sinai telah berlangsung sejak 2000, tetapi pemberontakan meningkat setelah kudeta militer pada tahun 2013.

Pada akhir 2014, Mesir mengumumkan keadaan darurat di kawasan itu, sementara kelompok bersenjata Sinai yang paling aktif menjanjikan kesetiaannya kepada Negara Islam Irak dan Levant (ISIL, juga dikenal sebagai ISIS). (AlJazeera/OL-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya