Penerbangan Langsung Bombay-Denpasar Tumbuhkan Angka Wisatawan

Micom
16/3/2018 02:47
Penerbangan Langsung Bombay-Denpasar Tumbuhkan Angka Wisatawan
(ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

SEJARAH baru industri penerbangan ditoreh Garuda Indonesia. Momentum tercipta setelah poros Denpasar, Bali, dihubungkan dengan penerbangan langsung (direct flight) ke Bombay, India.

Penerbangan perdana maskapai milik pemerintah ini direncanakan Senin, 23 April mendatang ditandai even pariwisata Indonesia dan inaugral flight.

Langkah besar diambil Garuda Indonesia. Mereka merespons secara cepat potensi bisnis pasar India. Wisatawan 'Negeri Bollywood' ini tumbuh fantastis 28,8% secara nasional. Sepanjang 2017, jumlahnya mencapai 485.314 wisatawan. Angka itu naik 108.512 wisatawan dari 2016. Dari jumlah itu, sebanyak 265.336 wisatawan atau 54,7% memilih Pulau Bali sebagai destinasi favorit.

Menjawab pasar potensial ini, Garuda pun menyiapkan dua skenario untuk poros Bombay-Denpasar. Penerbangan periode pertama dilakukan Senin 23 April sampai Senin 28 Mei mendatang. Selama periode ini, penerbangan dilaksanakan Senin dan Kamis. Lalu, Garuda menambah satu penerbangan pada rentang Senin 28 Mei hingga Sabtu 27 Oktober. Pada priode kedua ini, flight dilayani tiga kali sepekan, Senin, Kamis, dan Sabtu.

"Rute Bombay-Denpasar PP sangat bagus. Potensi pertumbuhan wisatawannya besar. Pasar India juga tidak terpengaruh isu erupsi Gunung Agung. Mereka sangat stabil dan ini menjadi poin penting," kata General Manager Garuda Indonesia untuk Bali, Joseph Saul, Kamis (15/3).

Menurut dia, setiap hari penerbangan dari Bali dilakukan pukul 15.40 Wita. Sedangkan penerbangan dari Bombay pukul 21.50 waktu setempat. Memberi pelayanan prima, maskapai pelat merah ini akan mengoperasikan armada modern Airbus A330-200 Aircraft. Wisatawan bisa memilih 2 kelas, yaitu bisnis dan ekonomi. Untuk kelas bisnis tersedia 36 flat bed seats, lalu ekonomi tersedia 186 kursi dengan lay out 2-4-2.

"Dengan membuka rute langsung ke India, kami berharap bisa lebih sukses. Kami memiliki target tinggi dan berusaha menambah jumlah kunjungan wisatawan dari India. Perhitungan sudah dilakukan," ujar Joseph lagi.

Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Infrastruktur Pariwisata, Judi Rifajantoro, mengatakan, penerbangan langsung Bombay-Denpasar sebagai sejarah.

"Selama ini belum ada rute penerbangan langsung dari India ke Indonesia. Garuda yang pertama kali melakukannya. Langkah ini tentu menjadi sejarah baru yang luar biasa. Apalagi, potensi pasar India memang sedang bagus," ungkapnya.

Sebelum direformasi tahun ini, poros Indonesia-India terhubung dengan transit di negara lain. Ada tiga kota transit yang menjadi langganan rute ini, yakni Bangkok (Thailand), Kuala Lumpur (Malaysia), juga Singapura. Pada 2016, Garuda memang membuka poros Jakarta-Mumbai tapi via Bangkok. Saat itu, regulasi ini untuk menjembatasi akses menuju Denpasar, Surabaya, dan Medan.

"Rute Indonesia-India sebelumnya via Bangkok, Kuala Lumpur, dan Singapura. Kalau bisa langsung pasti lebih baik. Semakin memudahkan mobilitas wisatawan. Keputusan Garuda sudah tepat. Potensi pasar India memang tinggi. Mereka tidak terpengaruh oleh isu erupsi Gunung Agung. Kami optimistis, target pertumbuhan kunjungan 30% bisa diraih lagi tahun ini," tegas Judi lagi.

Poros Bombay-Denpasar pun diprediksi akan menjadi pasar gemuk. Mengacu data Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, jumlah kunjungan wisatawan India ke Bali melonjak hampir 46%. Jumlah wisatawan 'Negeri Bollywood' juga berada pada posisi tiga besar. Tiongkok (1,37 juta orang) donatur terbesar, diikuti Australia (1,06 juta orang).

Deputi Pemasaran I Kemenpar, I Gde Pitana, mengatakan, dengan penerbangan langsung, banyak wisatawan India yang ke Bali. Selain Bali, destinasi lain di sekitarnya juga akan diuntungkan.

"India ini pasarnya besar. Masyarakat kelas menengah juga atasnya pun sangat banyak. Memang harus ada akses langsung untuk menarik mereka ke sini," ujar Pitana.

Setelah berada di Bali, diharapkan wisatawan dari India bisa melancong ke destinasi lain. Mereka bisa berkunjung ke destinasi di Banyuwangi, Nusa Tenggara Barat, hingga Nusa Tenggara Timur. Selain ukurannya, kemampuan pengeluaran wisatawan 'Negeri Bollywood' pun menjanjikan. Mereka rata-rata mengeluarkan bujet hingga US$904. Hanya terpaut US$115 dari wisatawan Tiongkok. (RO/OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya