Agar Diplomat Lancar Perkenalkan Kuliner Indonesia
Andhika Prasetyo/I-1
17/3/2015 00:00
(ANTARA/WAHYU PUTRO A)
RUANG Serbaguna Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia di Jakarta Selatan terlihat berbeda dari biasanya. Kemarin, di satu sisi ruangan itu disiapkan empat meja untuk memasak.
Pada setiap meja disiapkan bahan-bahan makanan yang beraneka ragam.
Di meja-meja itulah empat kelompok yang terdiri atas 3-4 diplomat senior Kemenlu meracik masakan.
Semuanya khas Indonesia.
Kelompok pertama membuat minuman seperti sampanye yang dibuat dari bahan-bahan khas Tanah Air, termasuk temu lawak, cengkih, kayu manis, dan dicampur soda.
Di meja kelompok kedua diracik masakan yang dinamakan Indonesian pesto, yakni semacam spageti dengan seluruh bahannya asli Indonesia.
Adapun kelompok ketiga dan keempat memasak ikan goreng dibalut kacang mete dan makanan penutup dari avokad, cokelat, dan kopi.
Andalusia, Kasubdit Direktorat Asia Timur dan Pasifik, satu dari 14 peserta latihan memasak itu terlihat bersemangat mengolah bahan masakan.
"Acara ini sangat bagus dan pasti akan membantu Indonesia untuk lebih maju lagi di bidang kulinernya," ujarnya.
Pelatihan memasak itu bertajuk Lecture on Culinary Diplomacy yang untuk pertama kalinya diadakan Kemenlu guna mempromosikan masakan Indonesia sebagai cara berdiplomasi.
"Ini salah satu pelatihan bagi diplomat sehingga ketika ditugaskan ke luar negeri, mereka bisa dengan lancar memperkenalkan kebudayaan Indonesia," kata Odo Manuhutu, Direktur Sekolah Staf dan Pimpinan Departemen Luar Negeri (Sesparlu).
Seluruh peserta, lanjut Odo, merupakan diplomat yang telah mengabdi selama lebih dari 15 tahun dan dalam tiga bulan belakangan ini mengikuti pelatihan, termasuk memasak, untuk kemudian ditugaskan di beberapa negara.
Diplomat lain yang mengikuti pelatihan memasak itu, Marsono, Kepala Bidang Pengembangan Jabatan Fungsional Penerjemah, juga mengaku tertarik mengenal lebih lanjut kuliner khas Indonesia untuk diperkenalkan kepada bangsa lain.
Bahan-bahan masakan khas Indonesia rupanya belum banyak dikenal di mancanegara.
Menurut Helianti Hilman, CEO of Javara, perusahaan kuliner khas Indonesia yang digandeng Sesparlu dalam menyelenggarakan pelatihan, mengungkap Indonesia termasuk tertinggal dalam industri kuliner.
"Malaysia dan Thailand lebih maju dalam bidang kuliner, padahal kita memiliki bahan-bahan yang melimpah," kata dia.
Lewat program pelatihan memasak sebagai cara diplomasi, hubungan antarnegara yang diwakili para diplomat diharapkan terus meningkat.