Belasan WNI Terkait IS Ditahan di Suriah

Anastasia Arvirianty
27/2/2018 08:04
Belasan WNI Terkait IS Ditahan di Suriah
(Direktur Perlindungan WNI Kemenlu Lalu Muhammad Iqbal -- ANTARA/SUWANDY)

SETIDAKNYA 15 warga negara Indonesia dan satu perempuan dari Malaysia yang diduga terkait dengan kelompok Islamic State (IS) ditahan pasukan Kurdi di Suriah.

Informasi itu disampaikan seorang pejabat dari sebuah LSM hak asasi manusia. Menurut pejabat tersebut, banyak dari mereka yang ditahan bersama anak-anak mereka.

Surat kabar Jerman, Die Welt, melaporkan pada awal Februari sekitar 800 wanita asing yang bergabung dengan kelompok militan IS dengan anak-anak mereka ditahan pasukan Kurdi yang didukung Amerika Serikat di Suriah utara.

Harian Jerman tersebut mewawancarai Direktur Program Terorisme dan Kontraterorisme Human Rights Watch, Nadim Houry, yang berbicara dengan banyak wanita saat melakukan kunjungan ke beberapa kamp penahanan di daerah yang dikuasai Kurdi, bulan lalu.

"Saya tahu ada orang Indonesia, setidaknya 15 orang," kata Houry kepada FMT melalui e-mail.

Houry mengatakan Indonesia ialah satu dari sedikit negara yang mengambil beberapa warganya dari Suriah pada 2017. "Negara lain yang mengambil beberapa warga negaranya ialah Rusia. Tapi masih ada beberapa (sisa)," katanya.

Surat kabar Jerman yang me-ngutipnya mengatakan bahwa 800 wanita dan anak-anak mereka berada di empat kamp. "Mereka berasal dari sekitar 40 negara. Ada wanita dari Kanada, Prancis, Inggris, Tunisia, Yaman, Turki, dan Australia," katanya. Ia menambahkan bahwa ada juga 15 orang dari Jerman.

Menurut Houry, mereka juga ditahan terpisah dari pejuang IS yang tertangkap. Beberapa wanita yang diwawancarai Houry mengatakan mereka dipukuli dan dipermalukan selama proses interogasi dan dipaksa tinggal dalam kondisi tidak higienis dengan bayi mereka.

"Wanita-wanita ini berada dalam situasi yang sangat sulit. Bagi anak-anak kecil terutama, keadaannya sama sekali tidak baik," kata Houry.

Pakar terorisme tersebut menyebutkan para wanita itu ingin kembali ke rumah dan bersedia menghadapi tuntutan pidana di negara asal mereka. Menurutnya, anak-anak tidak melakukan kejahatan apa pun.

"Mereka adalah korban perang, dan sering kali karena orangtua mereka yang radikal," tukasnya.

Kondisi masih rawan

Namun, pemerintah Indonesia membantah 15 WNI yang ada di Suriah merupakan tahanan pasukan Kurdi. Menurut Direktur Perlindung-an WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri RI, Lalu Muhamad Iqbal, mereka sebenarnya ialah WNI yang tinggal di Raqqa.

Kota tersebut dulunya merupakan markas IS lalu direbut Syrian Democratic Forces (SDF) yang merupakan pasukan gabungan Kurdi dan Arab Saudi pada Oktober tahun lalu. Raqqa dikuasai IS sejak awal 2014.

"Identifikasi mengenai 15 orang itu belum bisa dilakukan karena kondisi keamanan masih rawan. Jadi, kami belum bisa tentukan langkah-langkah konkret," kata Iqbal saat dihubungi, tadi malam.

Apalagi, lanjut Iqbal, meski wilayah itu ada di Suriah, yang me-nguasai wilayah tersebut bukanlah pasukan pemerintah sehingga KBRI yang ada di Damaskus belum bisa menjangkau ke-15 orang tersebut.

Pengamat terorisme Smith Al-Hadar menilai penahanan sejumlah orang Indonesia dan Malaysia oleh tentara Kurdi karena terafiliasi dengan kelompok IS sangat mungkin benar. Pasalnya, lanjut Smith, diketahui ada sekitar 500 WNI yang bergabung dengan IS sejak 2014.

"Sebagian sudah pulang ke negara asal, sebagian ada yang tewas, dan sisanya masih tertahan di Suriah," kata Smith, kemarin.(Beo/X-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya