TAMAN Nasional Virunga, Kongo, dikenal sebagai cagar alam tertua di Benua Afrika dan habitat bagi gorila. Sayangnya, keberadaan taman nasional tersebut terancam lenyap dan dihancurkan. Pasalnya, kawasan yang menjadi habitat spesies kera besar yang menyimpan kekayaan minyak itu hendak dieksplorasi.
Memang dua pilihan yang sulit bagi pemerintah Kongo. Apakah menghancurkan taman nasional itu dan mengusir para gorila demi meraup minyak atau menyelamatkan para gorila dan membatalkan eksplorasi?
Perusahaan minyak Inggris, Soco International plc, akhirnya memilih membatalkan dan menghentikan eksplorasi di Virunga. Padahal, bila dieksplorasi dilanjutkan, keuntungan pasti diraup.
Namun, pemerintah Republik Demokratik Kongo lebih mengutamakan minyak daripada gorila. Otoritas setempat menyatakan tidak akan membatalkan rencana mereka untuk mengeksplorasi cadangan minyak yang tersimpan di bawah tanah Taman Nasional Virunga.
Pemerintah Kongo ngotot untuk mengeksplorasi minyak di setiap jengkal tanah Virunga. Pejabat Kinshasa tidak peduli kendati taman nasional itu telah masuk warisan dunia UNESCO sejak 1994.
Nasib buruk taman nasional yang menjadi hunian gorila itu kembali akan menimpa. Saat konflik bersenjata bergolak beberapa tahun lalu, Taman Nasional Virunga yang berada di wilayah timur Kongo telah porak-poranda karena menjadi lokasi ajang pertempuran antarkelompok bersenjata.
Rencana eksplorasi di Taman Nasional Virunga tampaknya akan terus berlanjut. Bahkan Perdana Menteri (PM) Kongo Augustin Matata Ponyo telah menghubungi UNESCO untuk menimbang bagaimana cara mengeksplorasi secara bijaksana dan tepat di kawasan tersebut.
Alasannya, supaya keuntungan yang dituai dari sumber daya yang berlimpah itu bisa dimanfaatkan masyarakat yang tinggal di sana. Namun, Matata berharap para gorila pun tidak terganggu.
Pada Januari lalu, Matata menginformasikan para pemberi pinjaman internasional bahwa Kinshasa masih belum memberikan persetujuan untuk eksplorasi minyak dalam batas-batas wilayah taman nasional. Namun, jika keputusan seperti itu diambil, Matata juga membutuhkan adanya formula perubahan menyangkut batas-batas kawasan yang dilindungi UNESCO itu.
Taman Nasional Virunga memiliki luas 7.800 kilometer persegi. Kawasan habitat gorila itu meliputi kawasan yang berbatasan dengan wilayah Rwanda dan Uganda. Kawasan yang luas membentang itu meliputi wilayah savana, hutan, rawa, dan gunung berapi aktif. Saat menanggapi rencana tersebut, UNESCO menyatakan menolak eksplorasi. (AFP/Hym/I-3)