Tiongkok Kerahkan Jet Tempur

MI/DERI DAHURI
16/3/2015 00:00
Tiongkok Kerahkan Jet Tempur
(AP/Ng Han Guan)
TIONGKOK akan bersikap tegas untuk melindungi warganya di daerah perbatasan dengan Myanmar. Perdana Menteri (PM) Tiongkok Li Keqiang menyatakan hal itu, kemarin, setelah aksi pengeboman oleh pesawat militer Myanmar yang menewaskan lima orang di wilayah Tiongkok.

Dalam merespons insiden pengeboman oleh militer negara tetangga itu, 'Negeri Tirai Bambu' telah mengerahkan sejumlah jet tempur ke daerah perbatasan dengan Myanmar.

Kantor berita Tiongkok, Xinhua, yang mengutip juru bicara angkatan udara dari Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (CPLA), Shen Jinke, melaporkan sejumlah jet tempur telah ditugaskan untuk mengawasi, memonitor, memberi peringatan, dan siap mengusir pesawat militer Myanmar yang hendak memasuki wilayah kedaulatan Tiongkok.

Sebelumnya, pada Jumat (13/3), pesawat militer Myanmar menjatuhkan bom ke sebuah ladang tebu di Lincang, Provinsi Yunan, Tiongkok. Bom itu menewaskan 5 pekerja perkebunan dan melukai 8 orang lainnya. Semuanya warga Tiongkok.

Pihak Beijing telah memeringatkan munculnya kekerasan bersenjata di daerah perbatasan. Personel angkatan bersenjata Myanmar tengah memburu kelompok pemberontak etnik Kokang dari Negara Bagian Shan, Myanmar, yang melarikan diri memasuki wilayah Tiongkok.

Akibat konflik di daerah perbatasan itu, hubungan Tiongkok dan Myanmar memanas. Padahal, saat pemerintah junta Myanmar, Tiongkok dikenal sebagai negara sekutu utama Myanmar.

Saat memasuki era pemerintah di bawah Presiden Thein Sein, jalinan hubungan antara Myanmar dan Tiongkok merenggang. Terlebih lagi, perlawanan kelompok pemberontak dari etnik Kokang asal Tiongkok itu kian sengit.

Demi memperbaiki perekonomian dan dukungan dari Barat serta langkah reformasi politiknya, Thein Sein terus meningkatkan hubungan dengan Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Eropa.

Tiongkok marah
Terkait korban pengeboman pesawat Myanmar, PM Tionglok Li Keqiang mengungkapkan duka dan simpati yang mendalam kepada para korban dan keluarga merek

"Pada saat ini, pemerintah kami, kementerian hubungan luar negeri, dan militer menyampaikan pernyataan keras kepada pihak Myanmar," kata Li kepada wartawan di Beijing, kemarin.

"Kami memiliki tanggung jawab dan kemampuan untuk menjaga secara tegas keamanan dan stabilitas perbatasan Tiongkok-Myanmar dan kami akan melindungi secara tegas nyawa dan kepemilikan rakyat kami," ujar dia.

Wakil Pemimpin Komisi Militer Pusat Tiongkok, Fan Changlong, menjelaskan dirinya telah berbicara dengan petinggi militer Myanmar. Dia menegaskan bahwa Beijing akan mengambil tindakan tegas dan aksi keras jika pesawat militer Myanmar mengulang aksi serupa.

Sebaliknya, seorang pejabat Myamar, yang dikutip Reuters, membantah tuduhan pihak Tiongkok. Dia justru menyalahkan pemberontak Kokang dan disebutnya sebagai penyebab terjadinya ledakan.

"Ini mungkin bahwa mereka (kelompok pemberontak) bertempur melawan kami (tentara Myanmar) dengan melakukan sejumlah serangan intensif yang menyebabkan salah paham antara Tiongkok dan kami," jelas pejabat Myanmar yang tak mau disebut identitasnya itu.

Di sisi lain, sejak bulan lalu, pemerintah Myanmar telah mendeklarasikan darurat militer di Negara Bagian Shan mulai 9 Februari lalu sebagai bagian meredam perlawanan etnik Kokang yang tergabung dalam Tentara Aliansi Demokratik Nasional Myanmar (MNDAA).

Pertempuran di jalan-jalan di sekitar Kota Laukkai kerap terjadi. Situasi yang menegangkan itu menyebabkan lebih dari 30 ribu etnik Kokang mengungsi memasuki wilayah Provinsi Yunan, Tiongkok. (AFP/AP/I-2) deri@mediaindonesia.com 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya