Pemerintahan AS Kembali Dibuka

Irene Harty
23/1/2018 19:50
Pemerintahan AS Kembali Dibuka
(AFP PHOTO / MANDEL NGAN)

SETELAH sempat memicu kehebohan, pemerintahan Amerika Serikat (AS) kembali beroperasi pada Selasa (23/1), setelah 150 dari 266 suara senat sepakat memperpanjang pendanaan federal selama tiga minggu.

Hal itu terjadi beberapa jam setelah senat Demokrat menyetujui adanya jaminan Republik, atas pemungutan suara kebijakan imigrasi pada beberapa minggu mendatang.

Dengan dukungan Demokrat, undang-undang untuk mendanai pemerintah sampai 8 Februari dengan mudah lolos dari Senat.

Politisi Republik Kevin McCarthy mengatakan, "Mudah-mudahan, kita belajar dari hal ini, semoga tidak pernah kembali menyandera pemerintah."

Presiden AS Donald Trump telah menandatangani rancangan undang-undang untuk anggaran tersebut menjadi undang-undang pada Senin (22/1) malam. Sehingga para pegawai federal dapat kembali kembali beraktivitas normal esok harinya.

"Saya tahu ada kelegaan episode ini akan segera berakhir. Tapi ini bukan saatnya untuk menepuk punggung sendiri. Belum sedekat itu," kata Juru Bicara Gedung Putih Paul Ryan.

Kebuntuan sesaat sejak Jumat (19/1) tersebut sempat mengancam nasib ratusan ribu pegawai federal AS. Namun, kabar kesepakatan dari kompromi di Washington membuat saham AS melonjak ke level baru yang tertinggi.

Akan tetapi, Trump mengklaim kemenangan atas keberhasilannya membuka kembali pemerintahan AS. Sedangkan Gedung Putih tidak berminat mendapat kemenangan setelah penutupan dramatis tersebut.

"Saya senang Demokrat di Kongres telah sadar," ujar Trump.

"Kemenangan besar bagi Partai Republik sebagai Demokrat di Shutdown," tulisnya di akun Twitter, Senin (22/1) malam.

Trump yang telah menghabiskan akhir pekan di Gedung Putih, berencana akan berada bersama teman dan keluarga di rumah pribadinya di Mar-a-Lago, Florida untuk pesta ulang tahunnya.

Dia menambahkan, "Sekarang saya menginginkan kemenangan besar bagi semua orang, termasuk Partai Republik, Demokrat dan DACA, tapi terutama untuk keamanan militer dan perbatasan, kami harus bisa ke sana. Sampai jumpa di meja perundingan!"

Senator Senat Demokrat Chuck Schumer sebelumnya mengatakan, "Gedung Putih menolak untuk melakukan negosiasi selama akhir pekan. Presiden pembuat kesepakatan besar dengan duduk di pinggir lapangan."

Schumer juga mengatakan kepada juru bicara Senat AS Mitch McConnell, agar Partai Republik memberikan upayanya untuk memenuhi kekhawatiran Demokrat atas Tindakan yang Ditangguhkan terhadap Kedatangan Anak (DACA/Deferred Action on Child Arrivals).

Perisai 700.000 imigran sejak anak-anak dari deportasi itu akan berakhir pada 5 Maret mendatang.

"Jika dia (McConnell) tidak, tentu saja, dan saya berharap dia akan melakukannya, dia akan melanggar kepercayaan bukan hanya senator Demokratik tapi juga anggota partainya sendiri," tukas Schumer.

Senator Tim Kaine menyimpulkan pandangan Demokrat yang lebih optimistis dengan berkata, "Kami mendapat komitmen yang saya rasa sangat baik."

Namun, Trump dianggap bergerak untuk melemahkan Demokrat dengan mengatakan hanya akan menerima reformasi imigrasi yang komprehensif.

"Kami akan melakukan kesepakatan jangka panjang mengenai imigrasi jika, dan hanya jika, itu bagus untuk negara kita," imbuhnya.

Dengan deretan fundamental mengenai imigrasi dan pendanaan tembok perbatasan Trump yang belum terselesaikan, Partai Republik dan Demokrat mungkin akan menemui kembali jalan buntu serupa pada 9 Februari.

"Demokrat masih memiliki kemampuan yang berpotensi menghentikan pemadaman lain atas masalah ini," tandas Molly Reynolds dari Institusi Brookings jika tidak ada kemajuan dalam undang-undang imigrasi. (AFP/OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya