KTT PBB soal Iklim Resmi Dibuka

MI/AFP/AP/I-2
15/3/2015 00:00
KTT PBB soal Iklim Resmi Dibuka
(AFP PHOTO / POOL)
PARA pembuat kebijakan negara-negara anggota PBB berkumpul dalam konferensi 10 tahunan untuk membahas cara mengurangi risiko akibat bencana alam, kemarin. Sejumlah harapan berbagi upaya mengatasi bencana alam terlontar dalam konferensi yang dilaksanakan di Kota Sendai, Jepang, itu. Pertemuan berlangsung seiring badai tropis menghantam Vanuatu di Pasifik Selatan. Bencana itu dikhawatirkan menewaskan puluhan orang. Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengatakan ia telah bertemu dengan Presiden Vanuatu untuk menyampaikan belasungkawa dan solidaritasnya. "Apa yang kita bicarakan di sini hari ini sangat nyata bagi jutaan orang di dunia," kata Ban saat membuka Pertemuan Tingkat Tinggi PBB untuk Penanggulangan Bencana Alam.

Ban menyoroti kenaikan cuaca ekstrem yang terjadi akibat pemanasan global. Menurutnya, selama 10 tahun terakhir, laju pemanasan global semakin cepat. "Pengurangan risiko bencana merupakan garis depan pertahanan melawan dampak  perubahan iklim. Ini merupakan investasi yang bijaksana," kata Ban. Ban menambahkan pencegahan bencana merupakan tugas setiap manusia. Karena itu, ia meminta negara-negara termiskin mendapatkan bantuan serta perhatian khusus. "Yang kita diskusikan di sini sangat nyata bagi jutaan orang di dunia. Kita harus tetap fokus selama bernegosiasi menyusun komitmen bersama," kata Ban. Kerugian ekonomi Sebuah laporan yang disusun Kantor PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNISDR) mengatakan rata-rata kerugian ekonomi global akibat bencana menelan biaya US$250 miliar hingga US$300 miliar per tahun.

"Dua pertiga bencana alam terjadi akibat perubahan iklim," kata Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius. Fabius ialah Presiden COP 21, konferensi yang menyoroti tentang perubahan iklim. Konferensi COP 21 berikutnya akan  diselenggarakan di Paris pada Desember mendatang. "Kesuksesan pertemuan di Sendai mungkin bentuk awal konferensi di Paris," kata Fabius. Dalam pidatonya, Fabius mengatakan lebih dari 70 negara masuk kategori rentan terpapar cuaca ekstrem dan bencana alam. Fabius juga mengingatkan bahwa negara-negara kaya tidak kebal terhadap dampak perubahan iklim. "Tetapi negara yang paling terkena ialah negara-negara termiskin." Sejumlah perwakilan negaranegara dari kepulauan di Pasifi k dan Afrika menyambut baik pidato Fabius di Sendai.

"Saya sangat sadar, dalam peta, negara yang berada di rantai Pasifik terlihat cukup kosong. Namun, itu ialah tanah air kita," kata Presiden Mikronesia Emmanuel Mori. KTT untuk Penanggulangan Bencana Alam di Sendai sekaligus menandai peringatan tahun keempat gempa 9 SR di Jepang pada 11 Maret 2011 silam. Gempa yang memicu tsunami itu menewaskan sekitar 19 ribu orang. Dalam KTT untuk Penanggulangan Bencana Alam kali ini, Indonesia diwakili Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia Puan Maharani.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya