KOREA Utara (Korut) telah menembakkan tujuh rudal darat ke udara dan berakhir di laut dalam sebuah operasi yang dipimpin langsung oleh pemimpin Korut, Kim Jong-un. Hal itu dilaporkan Kementerian Pertahanan Korea Selatan (Korsel), kemarin. Juru bicara Kementerian Pertahanan Korsel menyatakan Kim menyaksikan penembakan ketujuh roket itu dari sebuah lokasi di dekat Kota Sondok, Korut. "Kami memandang penembakan tujuh rudal itu sebagai unjuk kekuatan yang dilakukan (Korea) Utara terkait dengan latihan bersama kami dengan Amerika Serikat," ujar juru bicara yang tidak disebut namanya itu. Pyongyang memandang latihan militer gabungan Korsel dan AS itu sebagai provokasi sekaligus latihan untuk menginvasi wilayah mereka.
Pe-nembakan itu dinilai sebagai cara Korut menunjukkan protes atas digelarnya latihan bersama Korsel-Amerika Serikat (AS) yang diadakan setiap tahun. Padahal, resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa melarang Korut menggelar uji coba rudal balistik. Latihan rutin gabungan yang digelar Korsel dan AS selalu menjadi ujian bagi hubungan antara Seoul dan Pyongyang. Kedua negara yang berada di Semenanjung Korea itu secara teknis masih dalam status perang mengingat Perang Korea yang berlangsung sepanjang 1950-1953 berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata dan bukan kesepakatan damai. Pakar Korut dari Universitas Kajian Korea Utara di Seoul, Yang Moo-jin, menyebut penembakan rudal yang dilakukan Pyongyang ialah demonstrasi belaka.
"Penembakan rudal itu tidak berbahaya," ujar Yang. Penembakan rudal telah lama menjadi metode yang dipilih Korut untuk mengungkapkan ketidaksukaan mereka atas perilaku Korsel dan sekutu mereka. Meski hampir bisa dipastikan Korut memiliki program pengembangan rudal yang aktif, tidak semua pengamat meyakini perkembangan program itu. Pada 2012 Pyongyang menunjukkan kemampuan rudal dengan mengirimkan satelit ke orbit bumi. Namun, negara komunis itu belum menunjukkan bahwa mereka telah menguasai teknologi yang dibutuhkan dalam pembuatan rudal balistik antarbenua (ICBM).
Pertanyaan lain yang kerap muncul ialah soal kemampuan tempur Korut, yakni apakah negara itu telah memiliki teknologi untuk memperkecil alat nuklir sehingga bisa dipasang di ujung rudal? Awal bulan ini, Menteri Pertahanan Korsel menyatakan Korut telah selangkah lebih maju dalam teknologi nuklir. Laporan badan intelijen pertahanan AS yang bocor pada 2013 pun menyimpulkan hal serupa. Korut sendiri telah menggelar tiga kali uji coba nuklir yakni pada 2006, 2009, dan 2013. Januari lalu, Korut menawarkan moratorium uji coba nuklir dengan syarat latihan gabungan AS-Korsel ditiadakan. Namun, tawaran itu ditolak pemerintah AS. 'Negeri Paman Sam' menyebut tawaran tersebut sebagai ancaman implisit bahwa Korut akan menggelar uji coba nuklir keempat mereka.