KELOMPOK ekstremis Islamic State (IS) menyambut janji kesetiaan kelompok ekstremis berbasis di Nigeria, Boko Haram, yang mendeklarasikan dukungannya untuk IS, Sabtu (7/3), pekan lalu. Menurut juru bicara kelompok ekstremis itu, Mohammed al-Adnani, pada Kamis (12/3) waktu setempat, "Kami mengumumkan perluasan kekhalifahan ke Afrika Barat karena Islamic State telah menerima janji kesetiaan saudara-saudara kami di sana." Pernyataan itu disampaikan lewat rekaman selama sekitar 30 menit. Rekaman audio yang disiarkan lewat stasiun radio sayap IS, Al-Furqan, pun dilaporkan belum terverifikasi.
Di situ, Adnani juga menyerukan para anggota ekstremis untuk bergabung dengan kelompok milisi di Afrika Barat serta meminta para simpatisan untuk tidak terpengaruh klaim kemenangan yang dilakukan pasukan Irak serta koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS). Sambutan IS pada janji setia Boko Haram itu dinilai J Peter Pham, direktur lembaga think tank Africa Center at the Atlantic Council yang berkantor di Washington, AS, sebagai risiko baru. Menurut Pham, ikatan kedua kelompok ekstremis itu dapat memunculkan ancaman baru.
"Para anggota milisi, simpatisan, semakin kesulitan mencari jalur untuk bisa masuk ke Suriah dan Irak. Mereka pun punya alternatif baru, yakni pergi ke Nigeria (basis kelompok Boko Haram) dan memperbesar konflik di sana," tutur Pham kepada kantor berita The Associated Press. Sebelum ini, misalnya pada kasus afiliasi IS di Mesir, Yaman, dan Libia, kelompok IS butuh waktu berminggu-minggu untuk merespons dukungan dan janji setia kelompok ekstremis lain. Namun, kini dalam waktu tidak sampai sepekan, IS telah merespons janji setia Boko Haram. "Selang waktu yang singkat antara deklarasi dukungan kesetiaan Boko Haram dan respons IS atas itu menunjukkan bahwa kedua kelompok itu butuh propaganda yang lebih kencang," lanjut Pham.
Tikrit Respons IS atas deklarasi dukungan janji setia Boko Haram dirilis bersamaan dengan penyusunan resolusi Dewan Keamanan PBB guna menopang kekuatan regional untuk memerangi Boko Haram dan ketika pasukan Irak memperketat keamanan pada IS di Kota Tikrit, Irak. Dewan Keamanan PBB mengajukan proposal agar komunitas internasional memberi bantuan dana, peralatan, pasukan, dan intelijen kepada lima negara Afrika dalam misi menumpas Boko Haram. Sementara itu, pada Rabu (11/3), pasukan Irak memasuki wilayah Tikrit yang sebelumnya dikuasai IS sejak Juni 2014 setelah berjuang selama 10 hari. Kombinasi kekuatan tentara, polisi, dan pasukan relawan bergerak ke wilayah utara dan selatan Tikrit, kota kelahiran mantan Presiden Irak Saddam Hussein, dan salah satu markas utama IS.
Setelah berhasil merebut kembali Tikrit, militer Irak optimistis kemenangan seutuhnya tinggal menunggu waktu. "Sekarang kami sedang bergerak ke tahap kedua rencana kami," kata Menteri Pertahanan Irak, Khaled al-Obeidi, Kamis (12/3), di Provinsi Salaheddin. Hingga kemarin, Kota Tikrit dilaporkan masih dalam kepungan puluhan ribu pasukan Irak. Sejauh ini tidak ada informasi jumlah pasti korban dalam pertempuran perebutan kembali Tikrit. Namun, setiap harinya, puluhan jenazah dilaporkan dibawa ke arah selatan Kota Baghdad.